Soppeng, Katasulsel.com — Ada yang sedang terjadi di hamparan sawah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.
Di saat rata-rata produktivitas padi nasional masih berkisar 5 hingga 6 ton per hektare, petani di daerah ini justru berhasil memanen hingga 11,05 ton per hektare.
Angka itu bukan salah tulis.
Bukan pula hasil percobaan di laboratorium.
Hasil tersebut berasal dari sawah petani yang menerapkan sistem Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), program modernisasi pertanian yang kini menjadi perhatian Kementerian Pertanian.
Capaian fantastis itu diungkap Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, dalam Webinar Smart Tani, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, Soppeng kini menjadi salah satu contoh paling nyata bahwa produksi padi di atas 10 ton per hektare bukan lagi mimpi.
“Terbukti di Soppeng kita mendapatkan produksi menggunakan varietas Inpago 12 sekitar 10,4 ton per hektare. Kemudian pada kegiatan berikutnya hasilnya bahkan mencapai 11,05 ton per hektare,” ungkap Amin.
Angka tersebut langsung membuat banyak kalangan pertanian melirik Soppeng.
Pasalnya, hasil panen itu hampir dua kali lipat lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Sawah Soppeng Jadi Laboratorium Masa Depan
Keberhasilan ini tidak datang begitu saja.
Di Kelurahan Manorang Salo, Kecamatan Marioriawa, petani tidak lagi mengandalkan cara-cara konvensional.
Mereka menggunakan pendekatan yang selama ini identik dengan pertanian masa depan.
Mulai dari soil test kit untuk membaca kondisi tanah, sistem tanam modern menggunakan drum seeder, pola tanam jajar legowo 6:1, pemupukan berbasis kebutuhan lahan, hingga penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida dan herbisida.
Bahkan teknologi digital digunakan untuk membantu petani menentukan langkah budidaya yang paling tepat.
Hasilnya?
Produktivitas padi melonjak drastis.
Dari Soppeng untuk Indonesia
Yang membuat Kementerian Pertanian semakin optimistis adalah keberhasilan tersebut tidak hanya terjadi di satu petak sawah.
Setelah diuji pada skala lebih luas hingga sekitar 2.000 hektare, produktivitas tetap bertahan di angka sekitar 10,2 ton per hektare.
Artinya, keberhasilan itu bukan kebetulan.
Melainkan sebuah sistem yang terbukti bekerja.
Bahkan capaian tersebut telah memenuhi target yang selama ini diinginkan Menteri Pertanian.
“Yang diminta Pak Menteri kalau bisa di atas 10,2 ton. Itu yang terus kita harapkan,” kata Amin.
Soppeng Kalahkan Rata-Rata Nasional
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas padi Indonesia selama beberapa tahun terakhir berada di kisaran 5,2 hingga 5,4 ton per hektare.
Sementara sawah yang menerapkan PM-AAS di Soppeng mampu menghasilkan 10,4 hingga 11,05 ton per hektare.
Perbandingan itu membuat banyak pihak menyebut Soppeng sebagai salah satu daerah yang berhasil menunjukkan wajah baru pertanian Indonesia.
Bukan lagi soal menambah luas sawah.
Tetapi bagaimana menghasilkan panen jauh lebih banyak dari lahan yang sama.
Drone Terbang, Hasil Panen Melonjak
Selain meningkatkan hasil panen, sistem PM-AAS juga membuat pekerjaan petani menjadi lebih efisien.
Penggunaan alat dan mesin pertanian mempercepat proses olah lahan hingga panen.
Sementara drone membantu penyemprotan menjadi lebih cepat, merata, dan aman.
Petani tidak lagi harus berjalan berjam-jam membawa tangki semprot di tengah terik matahari.
Teknologi yang dulu dianggap mahal dan sulit kini mulai hadir langsung di areal persawahan.
Jadi Contoh Nasional
Keberhasilan Soppeng kini menjadi salah satu alasan Kementerian Pertanian memperluas penerapan PM-AAS ke berbagai daerah di Indonesia.
Beberapa wilayah bahkan mulai mengikuti jejak tersebut.
Gorontalo dilaporkan berhasil mencapai produktivitas sekitar 11 ton per hektare, sementara sejumlah daerah lain tengah mengadopsi metode serupa.
Namun hingga saat ini, nama Soppeng tetap menjadi salah satu contoh yang paling sering disebut dalam berbagai forum pertanian nasional.
Dari daerah yang dikenal sebagai Bumi Latemmamala itu, sebuah pesan penting muncul:
Jika teknologi diterapkan secara disiplin, sawah Indonesia ternyata mampu menghasilkan panen yang jauh lebih tinggi dari yang selama ini dibayangkan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
