Makassar, Katasulsel.com β€” Saya sengaja berdiri agak lama di depan stan itu.

Awalnya biasa saja.

Orang-orang lalu lalang seperti lazimnya di sebuah mal. Ada yang baru keluar dari bioskop. Ada yang menggandeng anak. Ada yang sibuk membawa kantong belanja.

Lalu langkah mereka melambat.

Mata mereka berbelok ke kiri.

Ke stan kecil milik Kabupaten Soppeng.

Begitulah cara sebuah karya menarik perhatian. Tidak berteriak. Tidak memaksa. Ia cukup diam. Orang-orang yang datang sendiri.

Ada ibu-ibu yang meraba halusnya kain. Ada bapak yang bertanya motifnya. Ada pula yang langsung mengeluarkan dompet tanpa banyak menawar.

Saya sempat tersenyum.

Di tengah mal yang dipenuhi merek-merek modern, justru kain bercorak Bugis yang mencuri panggung.

Inilah yang dilakukan Dekranasda Kabupaten Soppeng dalam Pameran Kriya dan Wastra Syukuran 46 Tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall Makassar.

Mereka tidak datang membawa barang mewah.

Yang mereka bawa adalah identitas.

Ada tenun bermotif Kalong. Batik pewarna alam dengan sentuhan aksara Lontara. Busana modern bermotif Jijiri dan Lagosi. Hingga anyaman tangan yang masih menyisakan aroma kesabaran para perajinnya.

Saya memperhatikan satu per satu pengunjung.

Tidak sedikit yang awalnya hanya ingin melihat-lihat.

Lima menit kemudian, mereka sudah membawa kantong belanja.

Begitulah kalau sebuah produk punya cerita. Orang membeli bukan hanya kainnya. Mereka membeli kebanggaannya.

Pengurus Dekranasda Soppeng, Nurlela, tampak sibuk melayani pengunjung. Sesekali menjelaskan filosofi motif yang terpajang di etalase.

Katanya, banyak tamu dari luar daerah sengaja membeli cendera mata khas Sulawesi Selatan. Bahkan beberapa pejabat dari DKI Jakarta ikut membawa pulang karya para perajin Soppeng.

Saya tidak heran.

Motif Kalong memang punya daya tarik sendiri. Tidak mencolok. Tidak berisik. Tetapi semakin lama dipandang, semakin terasa kelasnya.

Yang menarik, Soppeng rupanya tidak puas hanya menjual produk di atas meja.

Mereka membawa kain itu ke atas panggung.

Dalam fashion show rangkaian Dekranas, wastra bermotif Kalong dipadukan dengan motif Lagosi tampil percaya diri. Karya itu dibuat sendiri oleh Nurlela, pemilik Cantika Sabbena Soppeng, didesain oleh desainer Mijel Soppeng, lalu diperagakan anggota Dekranasda Soppeng.

Di situlah saya berpikir.

Kain tradisional ternyata tidak harus terlihat tua.

Ia bisa modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Puncaknya terjadi saat penutupan.

Selendang bermotif Lagosi Caddi Kalong karya perajin Soppeng melingkar anggun di bahu Ketua Umum TP PKK Pusat, Tri Tito Karnavian.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya selembar selendang.

Bagi para perajin di Soppeng, itu adalah pengakuan.

Pengakuan bahwa karya dari sebuah daerah kecil bisa berdiri sejajar dengan karya dari mana saja.

Nurlela kemudian berkomentar ringan, tetapi terasa dalam.

Katanya, pameran seperti ini lebih tepat digelar di mal.

Saya mengangguk dalam hati.

Budaya memang jangan hanya dipamerkan kepada mereka yang memang sudah mencintainya.

Budaya harus dibawa ke tengah keramaian.

Ke tempat orang yang awalnya tidak berniat melihatnya.

Karena sering kali, kecintaan pada warisan daerah lahir bukan dari pidato.

Melainkan dari satu tatapan.

Satu sentuhan pada selembar kain.

Lalu seseorang berkata pelan, “Yang ini saya beli.” (*)

Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Soppeng Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Soppeng hanya di Katasulsel.com

πŸ‘‰ Lihat semua berita Soppeng terbaru di sini