Oleh: Edy Basri
ADA tiga cara menghadapi El Nino.
Bupati Sidrap memilih ketiganya.
Air. Solar. Doa.
Urutannya juga menarik. Yang pertama urusan bumi. Yang kedua urusan mesin. Yang ketiga urusan langit.
Itulah pesan yang disampaikan Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, saat ancaman El Nino mulai membuat banyak petani waswas. Maklum. Kalau hujan mulai malas turun, yang paling dulu gelisah biasanya bukan politisi. Bukan pejabat. Tapi petani yang setiap hari menatap sawah.
Syaharuddin tampaknya paham kegelisahan itu.
Karena itu ia meminta petani tidak buru-buru panik. Menurutnya, pemerintah daerah sudah menyiapkan tiga jurus untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi bakal lebih panjang.
Jurus pertama: air harus tetap mengalir.
Ini yang paling penting. Sawah tidak bisa diajak pidato. Padi tidak tumbuh karena spanduk. Yang dibutuhkan sawah adalah air.
Karena itu Pemkab Sidrap mulai memperketat pengawasan distribusi air. Jaringan irigasi dipantau. Bendungan diperiksa. Embung dicek. Semua sumber air yang bisa menyelamatkan sawah dimaksimalkan.
Targetnya sederhana: jangan sampai ada petani yang hanya bisa menatap retakan tanah sambil bertanya kapan hujan datang.
Jurus kedua: solar jangan salah alamat.
Ini juga masalah klasik yang sering membuat petani mengelus dada.
Saat air mulai berkurang, mesin pompa menjadi penyelamat. Tapi mesin pompa tidak hidup dengan doa saja. Ia butuh solar.
Karena itu Syaharuddin menegaskan distribusi solar subsidi harus benar-benar berpihak kepada petani. Jangan sampai yang membutuhkan justru kehabisan, sementara yang tidak berhak malah kebagian.
“Petani harus diprioritaskan,” begitu kira-kira pesan yang ingin ditegaskan.
Sebab percuma irigasi tersedia kalau pompa tidak bisa menyala.
Lalu jurus ketiga?
Nah, ini yang paling khas Indonesia.
Doa.
Bupati mengajak masyarakat, tokoh agama, pengurus masjid, hingga seluruh warga untuk memperbanyak doa meminta hujan.
Ada yang mungkin tersenyum mendengarnya.
Tapi bagi masyarakat agraris seperti Sidrap, doa memang selalu menjadi bagian dari tradisi menghadapi musim sulit. Sejak dulu petani bekerja dengan cangkul di tangan dan harapan di dada.
Karena itu Syaharuddin tidak ingin hanya mengandalkan kerja teknis. Menurutnya, ikhtiar dan doa harus berjalan berdampingan.
Yang satu membuka saluran air.
Yang satu membuka SPBU untuk petani.
Yang satu lagi mengetuk pintu langit.
Sidrap memang tidak bisa mengusir El Nino.
Tidak ada daerah yang bisa.
Tapi setidaknya daerah ini sedang bersiap. Air dijaga. Solar diamankan. Doa dipanjatkan.
Pesannya sederhana.
Kalau kemarau datang, jangan buru-buru panik.
Karena pemerintah sedang bekerja.
Petani tetap menanam.
Dan langit, siapa tahu, sedang menyiapkan hujan. (*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
