Oleh: Edy Basri
Saya tidak kenal dekat Hotman Paris.
Dia juga tidak kenal saya.
Kalaupun kenal, mungkin hanya sebatas tahu bahwa wartawan itu makhluk yang sering datang membawa pertanyaan.
Kadang pertanyaannya enak didengar.
Kadang membuat kening berkerut.
Tetapi justru di situlah tugas wartawan.
Bertanya.
Bukan memuji.
Bukan mengipas.
Bukan menjadi tim sorak.
Belakangan ini, video dan potongan pernyataan Hotman Paris kepada wartawan ramai beredar. Banyak yang menilai nada ucapannya merendahkan profesi wartawan.
Saya menontonnya beberapa kali.
Lalu saya teringat satu penyakit yang sering menyerang orang-orang terkenal.
Penyakit merasa dirinya lebih penting daripada orang lain.
Penyakit ini tidak mengenal profesi.
Bisa menyerang pejabat.
Bisa menyerang artis.
Bisa menyerang pengusaha.
Bisa juga menyerang pengacara yang sering tampil di televisi.
Mungkin Hotman.
Gejalanya sederhana.
Mulai alergi terhadap pertanyaan.
Terutama pertanyaan yang tidak sesuai keinginan.
Padahal wartawan itu hidup dari pertanyaan.
Kalau wartawan berhenti bertanya, koruptor akan pesta.
Pejabat akan nyaman.
Dan demokrasi akan tidur pulas.
Saya membayangkan kalau semua wartawan hanya bertanya yang manis-manis.
“Pak, hari ini tampan sekali.”
“Pak, apa rahasia sukses Bapak?”
“Pak, apakah Bapak manusia paling hebat di Indonesia?”
Wah.
Negara ini mungkin tenang.
Tapi tidak sehat.
Karena kebenaran sering lahir dari pertanyaan yang membuat orang tidak nyaman.
Hotman tentu orang pintar.
Tidak mungkin menjadi pengacara terkenal kalau tidak pintar.
Jam tangannya mahal.
Mobilnya banyak.
Cincinnya gede.
Ada berliannya.
Pengikut media sosialnya jutaan.
Tetapi semua itu tidak otomatis membuat setiap ucapannya benar.
Begitu juga wartawan.
Tidak semua wartawan selalu benar.
Kadang ada yang salah bertanya.
Kadang ada yang kurang data.
Kadang ada yang terlalu bersemangat.
Tetapi kesalahan satu wartawan tidak boleh menjadi alasan merendahkan seluruh profesi.
Sama seperti kesalahan satu pengacara tidak membuat seluruh pengacara menjadi buruk.
Logikanya sederhana.
Yang sering hilang justru ketika ego mulai bekerja.
Saya jadi teringat banyak tokoh besar yang pernah diwawancarai wartawan.
Ada yang kesal.
Ada yang marah.
Ada yang menolak menjawab.
Tetapi mereka tetap menghormati profesi yang bertanya.
Karena mereka sadar.
Hari ini mereka terkenal.
Besok bisa saja tidak.
Hari ini mereka menjadi berita utama.
Besok mungkin hanya catatan kaki.
Sedangkan wartawan akan tetap ada.
Tetap bertanya.
Tetap menulis.
Tetap mengganggu kenyamanan orang-orang yang terlalu nyaman.
Itulah tugasnya.
Maka ketika ada tokoh publik yang merasa terganggu oleh pertanyaan wartawan, mungkin yang perlu diperiksa bukan pertanyaannya.
Tetapi egonya.
Sebab sejarah menunjukkan satu hal.
Orang besar tidak diukur dari seberapa keras ia bicara kepada wartawan.
Orang besar diukur dari kemampuannya menghormati orang lain, termasuk mereka yang datang membawa pertanyaan yang tidak ia sukai.
Dan sampai hari ini, pertanyaan tetap lebih berguna daripada kesombongan. (*)
