Oleh: Edy Basri
SAYA sedang melawan polisi.
Jangan kaget dulu.
Polisi yang saya maksud bukan yang memakai seragam cokelat.
Bukan yang membawa peluit.
Bukan pula yang berdiri di tengah jalan mengatur lalu lintas.
Polisi yang saya lawan bernama Google.
Ia tidak pernah tidur.
Ia tidak pernah cuti.
Ia tidak pernah memberi tahu kapan datang memeriksa.
Tahu-tahu sudah ada di depan pintu.
Memeriksa semuanya.
Judul berita.
Isi berita.
Foto berita.
Kecepatan situs.
Bahkan hal-hal yang kadang tidak kita pikirkan.
Google ini polisi yang galak.
Sangat galak.
Ia tidak peduli siapa pemilik medianya.
Tidak peduli siapa editornya.
Tidak peduli siapa bupatinya.
Kalau salah, ditilang.
Kalau bagus, kadang juga belum tentu dipuji.
Karena itu melawan Google tidak bisa dengan emosi.
Tidak bisa dengan marah-marah.
Tidak bisa dengan koneksi.
Harus dengan kerja.
Dengan kesabaran.
Dengan konsistensi.
Saya sudah cukup lama berada di arena ini.
Cukup lama merasakan bagaimana rasanya dianggap tidak ada.
Menulis berita setiap hari.
Tetapi Google seolah berkata:
“Lewat dulu…”
Menulis lagi.
“Belum…”
Menulis lagi.
“Nanti dulu…”
Begitu terus.
Kadang membuat kesal.
Kadang membuat ingin menyerah.
Tetapi saya termasuk orang yang keras kepala.
Kalau pintu depan tertutup, saya cari pintu samping.
Kalau pintu samping tertutup, saya cari jendela.
Kalau jendela tertutup, saya tunggu sampai pintunya dibuka.
Mungkin itulah yang sedang terjadi sekarang.
Beberapa hari terakhir saya melihat angka-angka di Search Console.
Tayangan naik 80 persen.
Saya ulangi.
Delapan puluh persen.
Bagi sebagian orang itu hanya statistik.
Bagi saya itu seperti polisi yang mulai melambatkan motornya.
Lalu menoleh.
Lalu melihat.
Lalu bertanya:
“Ini media siapa?”
Saya senang melihatnya.
Karena selama ini tugas terberat media daerah bukan membuat berita.
Tugas terberatnya adalah membuat Google percaya.
Percaya bahwa kita layak ditampilkan.
Percaya bahwa berita kita layak dibaca.
Percaya bahwa kita benar-benar hadir untuk masyarakat.
Saya belum menang.
Jauh dari menang.
Posisi rata-rata masih 8,7.
Klik juga masih turun.
Masih banyak kekurangan.
Masih banyak pekerjaan rumah.
Tetapi ada satu hal yang membuat saya tersenyum.
Polisi itu mulai memperhatikan.
Dulu mungkin ia bahkan tidak tahu kita ada.
Sekarang ia mulai mengenal nama kita.
Mulai sering melewati halaman rumah kita.
Mulai sesekali berhenti.
Bagi media lokal seperti Katasulsel, itu bukan hal kecil.
Karena kepercayaan tidak datang sekaligus.
Ia datang sedikit demi sedikit.
Seperti menanam padi.
Tidak bisa dipanen besok pagi.
Harus menunggu.
Harus merawat.
Harus sabar.
Dan saya kira kami sedang berada di fase itu.
Fase ketika kerja keras mulai terlihat hasilnya.
Belum besar.
Belum sempurna.
Tetapi nyata.
Karena itu saya masih akan terus melawan polisi ini.
Bukan untuk mengalahkannya.
Sebab tidak mungkin mengalahkan Google.
Yang bisa dilakukan hanyalah membuatnya menghormati kita.
Membuatnya percaya.
Membuatnya memberi ruang yang lebih baik.
Dan pagi ini, setelah melihat angka-angka itu, saya punya keyakinan baru.
Perlawanan kecil dari sebuah media daerah di Sidrap ternyata mulai diperhatikan.
Oleh polisi paling galak di dunia digital.
Namanya Google.
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
