Enrekang, Katasulsel.com — Pasar Agro Sumillan di Desa Sumillan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, masih seperti baru saja “disapu keras” waktu. Di beberapa titik, yang tersisa bukan lagi kios, melainkan rangka besi yang menghitam, kayu yang patah, dan bau hangus yang belum benar-benar mau pergi.

Sembilan kios ludes dalam kebakaran yang terjadi sebelumnya. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Tapi di balik angka itu, ada hal lain yang jauh lebih sulit dihitung: rasa kehilangan para pedagang yang tiba-tiba harus memulai lagi dari nol.

Rabu (13/5/2026), suasana pasar yang biasanya ramai tawar-menawar berubah jadi ruang sunyi penuh tanda tanya. Di tengah lokasi itu, Kapolres Enrekang AKBP Hari Budiyanto datang bersama jajaran Forkopimda. Bukan sekadar kunjungan, tapi semacam “cek nadi” pada sebuah pasar yang baru saja tersengat api.

Para pedagang berdiri di depan sisa lapak mereka. Ada yang hanya menatap diam, ada yang sibuk memilah barang yang masih bisa diselamatkan. Selebihnya, banyak yang tampak masih belum selesai percaya bahwa api bisa secepat itu menghapus bertahun-tahun usaha.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

“Kami hadir untuk memastikan penanganan berjalan cepat, aman, dan terkoordinasi,” ujar Kapolres melalui keterangan Humas Polres Enrekang. Kalimat yang terdengar formal, tapi di lapangan diterjemahkan lebih sederhana: ada negara yang datang melihat luka warganya.

Di sisi lain pasar, polisi masih bekerja. Garis olah TKP dibentangkan, sisa-sisa kios diperiksa satu per satu. Satreskrim Polres Enrekang mengumpulkan keterangan saksi, menelusuri titik awal api, dan menyusun ulang kronologi yang dalam hitungan menit berubah jadi bencana.

Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik. Tapi seperti biasa dalam peristiwa kebakaran, dugaan awal bukan kesimpulan akhir. Api selalu meninggalkan jejak yang harus dibaca pelan-pelan.

Namun yang menarik dari Sumillan bukan hanya apinya, tapi juga respons setelahnya. Di sela-sela puing, mulai terlihat gerakan kecil yang sering luput dari kamera: pedagang saling bantu, warga ikut membersihkan, dan obrolan pelan tentang “kapan mulai lagi”.

Pasar, dalam bentuknya yang paling jujur, memang tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berhenti sebentar, lalu pelan-pelan mencari cara untuk hidup kembali.

Dan di Sumillan hari itu, yang terbakar bukan hanya sembilan kios. Tapi juga ujian kecil tentang bagaimana sebuah komunitas bertahan ketika tempat hidupnya berubah jadi abu. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita

Update terbaru: 15 Mei 2026 19:31 WIB