Wajo, Katasulsel.com — Gelaran Tournamen Pordi SMS Cup I Wajo Se-Indonesia yang digadang sebagai ajang adu skil dan silaturahmi antar daerah justru berakhir ricuh dan penuh kekecewaan. Ratusan peserta memilih meninggalkan lokasi pertandingan setelah Sesi II mengalami penundaan berulang hingga larut malam, Sabtu (9/5/2026), tanpa kepastian jadwal yang jelas.
Sejak sore, peserta sudah memadati arena pertandingan dengan harapan Sesi II segera dimulai sesuai informasi awal panitia. Namun kenyataan di lapangan berubah menjadi penantian panjang tanpa kejelasan. Bagan pertandingan yang seharusnya menjadi acuan permainan disebut tidak kunjung dibagikan secara resmi ke grup peserta, sementara jadwal terus berubah dari siang ke sore hingga malam hari.
Sejumlah peserta dari Gardu DS-48 Luwu mengaku sejak awal sudah meragukan konsistensi penyelenggaraan turnamen. Mereka menyebut sempat menerima informasi awal bahwa pertandingan akan dimulai sekitar pukul 15.00 WITA, namun waktu terus bergeser tanpa kepastian hingga mendekati pukul 21.30 WITA, Sesi II belum juga dimulai. Kondisi tersebut memicu ketegangan di antara peserta yang telah menunggu sejak siang hari.
Kekecewaan tidak hanya datang dari satu daerah. Peserta dari Sinjai dan sejumlah kabupaten lain juga menyuarakan hal serupa, menyebut penyelenggaraan SMS Cup I Wajo tidak mencerminkan standar turnamen tingkat nasional. Banyak peserta mengaku telah menempuh perjalanan jauh dan menginap selama dua hari, namun belum mendapatkan kesempatan bermain secara layak akibat ketidakteraturan jadwal.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Situasi semakin memanas ketika sebagian peserta mulai meninggalkan lokasi pertandingan secara massal. Beberapa di antaranya menyebut kerugian materiil dan nonmateriil akibat ketidakpastian jadwal yang berlarut-larut. Kondisi ini membuat atmosfer turnamen yang awalnya diharapkan sebagai ajang sportivitas berubah menjadi kekecewaan kolektif.
Di sisi lain, kritik juga muncul dari kalangan pengamat organisasi. Presiden Koalisi LSM dan Pers Sulawesi Selatan, Mulyadi S.H, menyoroti dugaan lemahnya sistem penyelenggaraan, termasuk penggunaan bagan pertandingan yang disebut masih dilakukan secara manual tanpa sistem aplikasi resmi. Ia juga menilai adanya ketidakkonsistenan dalam proses pendaftaran yang masih dibuka saat pertandingan sudah berjalan, sehingga menimbulkan polemik di antara peserta.
Mulyadi mendesak agar PORDI Sulawesi Selatan hingga tingkat pusat segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan turnamen tersebut, termasuk kemungkinan pemberian sanksi kepada pihak penyelenggara di Kabupaten Wajo.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak panitia, penyelenggara, maupun pengurus PORDI Kabupaten Wajo belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden yang menyebabkan turnamen berakhir ricuh dan meninggalkan catatan buruk bagi pelaksanaan kompetisi domino berskala nasional tersebut. (*)
