Makassar, katasulsel.com Gaung Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Tahun 2026 terasa sampai ke Wajo. Apalagi, dua pucuk pimpinan daerah, Andi Rosman dan Baso Rahmanuddin, hadir langsung di arena forum yang digelar di Four Points by Sheraton Makassar, Sabtu (2/5).

Bagi masyarakat Wajo, kehadiran ini bukan sekadar simbolis. Ini adalah tanda bahwa Wajo ikut “masuk gelanggang” dalam percaturan ide dan kolaborasi tingkat nasional.

Mengusung tema “Kolaborasi Unhas untuk Negeri”, Mubes kali ini terasa seperti ruang temu gagasan para alumni yang kini tersebar di berbagai sektor strategis. Dari birokrat, akademisi, hingga pelaku usaha, semua berkumpul dalam satu forum.

Dalam bahasa sederhana, ini bukan cuma reuni—ini “ruang negosiasi masa depan”.

Isu-isu besar seperti ketahanan pangan dan energi ikut dibahas. Topik yang sangat relevan dengan Wajo, yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi pertanian yang kuat di Sulawesi Selatan.

Bupati Andi Rosman melihat forum ini sebagai peluang memperluas jejaring. Menurutnya, koneksi alumni bisa menjadi pintu masuk untuk menghadirkan program dan investasi yang berdampak langsung ke daerah.

Sementara Wakil Bupati Baso Rahmanuddin menilai, kehadiran pemerintah daerah di forum seperti ini penting agar Wajo tidak hanya jadi penonton, tetapi ikut menentukan arah diskusi dan kebijakan.

“Mubes ini jadi momentum membangun komunikasi yang lebih luas,” kira-kira begitu pesan yang ingin ditegaskan.

Di balik suasana santai penuh silaturahmi, sebenarnya sedang berlangsung “pertarungan ide”. Siapa yang siap berkolaborasi, dialah yang akan lebih cepat bergerak.

Bagi warga Wajo, ini jadi kabar positif. Artinya, daerah tidak berjalan sendiri. Ada jaringan besar alumni yang bisa digerakkan untuk memperkuat pembangunan.

Mubes IKA Unhas 2026 pun bukan hanya cerita dari Makassar. Ia juga membawa pesan pulang ke Wajo: saatnya daerah bergerak lebih aktif, membuka koneksi, dan ikut ambil bagian dalam agenda besar bangsa.(*)

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif