Palembang, Katasulsel.com — Dunia kedokteran Indonesia berduka. Seorang dokter muda, Myta Aprilia Azmy, meninggal dunia setelah sempat dirawat kritis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin, Jumat (1/5/2026).

Almarhumah diketahui sedang menjalani masa internship di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal. Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka, tapi juga memantik gelombang pertanyaan besar tentang sistem kerja dokter muda di Indonesia.

Isu mulai memanas setelah beredar narasi di media sosial yang menyebut dr Myta tetap menjalankan tugas meski kondisi kesehatannya menurun. Sebelum meninggal, ia dilaporkan mengalami sesak napas dan demam tinggi.

Dari sini, perhatian publik langsung mengarah pada satu hal: beban kerja dan sistem pembimbingan dokter internship.

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) bahkan mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menyebut kasus ini bukan sekadar tragedi, tetapi “luka bagi kemanusiaan”.

Dalam investigasi internal yang mereka sampaikan, muncul sejumlah dugaan serius. Mulai dari jam kerja berlebih tanpa libur, kurangnya supervisi dokter pembimbing, hingga pengabaian kondisi kesehatan almarhumah sejak Maret 2026.

Disebutkan pula, dr Myta tetap menjalani jadwal jaga meski dalam kondisi sakit. Bahkan, ada dugaan keterbatasan obat serta tekanan terhadap tenaga medis muda.

Kasus ini juga menyeret isu yang lebih luas, yakni budaya kerja di dunia medis yang kerap dianggap “keras” bagi dokter muda. Istilah seperti overwork dan burnout kini kembali ramai dibicarakan.

Pengurus PPDS sekaligus perwakilan alumni FK Unsri, Ahmad Junaidi, menyampaikan duka mendalam sekaligus mendesak pemerintah untuk turun tangan.

Desakan agar Kementerian Kesehatan melakukan audit menyeluruh pun menguat. Tujuannya jelas: memastikan apakah ada pelanggaran sistemik yang selama ini luput dari perhatian.

Di sisi lain, pihak rumah sakit tempat dr Myta bertugas belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut.

Di balik polemik ini, sosok dr Myta dikenal sebagai pribadi yang hangat dan berdedikasi. Alumni FK Unsri itu disebut mencintai profesinya dan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada pasien.

Kini, kepergiannya meninggalkan tanda tanya besar.

Apakah ini murni musibah, atau ada sistem yang perlu dibenahi?

Satu hal yang pasti, kasus ini membuka kembali diskusi lama: sampai sejauh mana pengabdian tenaga medis harus dibayar dengan risiko yang begitu besar. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita