Sidrap, Katasulsel.com — Ada yang berbeda dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini di Kecamatan Tellu Limpoe, Ahad, 3 Mei 2026. Bukan hanya seremoni, para guru justru “turun ke jalan” dalam balutan gerak santai yang terasa seperti reuni besar penuh energi positif.

Start dari Lapangan Andi Sulolipu hingga finis di UPT SDN 3 Amparita, kegiatan ini menjelma jadi ruang interaksi yang cair. Tak ada sekat jabatan, semua larut dalam satu frekuensi: kebersamaan.

Wakil Bupati Sidenreng Rappang, Nurkanaah, hadir langsung dan ikut membaur. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, tapi memberi sinyal bahwa momentum seperti ini punya nilai strategis.

Sejumlah tokoh daerah juga tampak hadir, termasuk anggota DPRD Sidrap Ruslan, Plt Kadisdikbud Sirajuddin, Camat Tellu Limpoe Ridwan Bachtiar, serta jajaran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Namun jika dilihat lebih dalam, kegiatan ini bukan cuma jalan santai biasa. Ini semacam “ruang recharge sosial”—tempat para guru mengisi ulang semangat, memperkuat koneksi, dan menyatukan ritme gerak organisasi.

Dalam arahannya, Nurkanaah menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari agenda rutin PGRI yang digilir di tiap kecamatan. Tapi maknanya lebih dari itu.

“Ini momen memperkuat barisan. Kalau guru solid, maka ekosistem pendidikan juga akan kuat,” ujarnya.

Bahasa populernya, ini adalah “pemanasan mesin” sebelum masuk ke agenda besar seperti Pekan Olahraga dan Seni Pelajar (Porsenijar) yang akan mempertemukan guru dari seluruh Sulawesi Selatan.

Tak hanya bicara organisasi, pesan moral juga diselipkan. Nurkanaah mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan memperkuat peran guru sebagai penjaga arah generasi muda.

Di tengah tantangan zaman, guru dituntut bukan hanya mengajar, tapi juga menjadi “filter sosial” bagi siswa agar tidak terjebak pada hal-hal negatif.

Kegiatan ditutup dengan pembagian door prize yang makin mencairkan suasana. Tawa dan sorak peserta menjadi penutup yang manis.

Hardiknas di Tellu Limpoe kali ini memberi pesan sederhana tapi kuat: pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi juga tentang rasa memiliki, solidaritas, dan gerak bersama.

Karena dari langkah santai seperti inilah, sering kali lahir energi besar untuk perubahan. (*)

Editor
Mengawal akurasi dan kedalaman berita