Sidrap, katasulsel.com — Gaya “merakyat” yang selama ini melekat pada Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif, ternyata bukan sekadar feeling publik.

Dalam bahasa kampus, ini bukan kebetulan—ini hasil dari proses yang disebut konstruksi sosial.

Penelitian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) mencoba membedah itu. Penulisnya, Tri Wahyu Wiranda (2026), melihat bagaimana citra pemimpin populis itu dibangun pelan-pelan, bukan instan.

Ibaratnya, bukan mie instan, tapi masakan yang dimasak lama sampai bumbunya meresap.

Sidrap yang dikenal sebagai daerah agraris, dengan masyarakat petani, peternak, dan pedagang, punya karakter sendiri.

Dalam istilah akademis, ini disebut konteks sosial-paternalistik—di mana masyarakat cenderung butuh figur pemimpin yang dekat, responsif, dan terasa “satu frekuensi”.

Nah, di sinilah Syaharuddin Alrif bermain. Ia tidak tampil kaku ala pejabat formal.

Gaya komunikasinya cair, santai, kadang pakai bahasa sehari-hari.

Dalam teori komunikasi politik, ini masuk kategori pendekatan empatik—alias komunikasi yang mengedepankan rasa, bukan sekadar data.

Secara sederhana, dia tidak cuma “bicara ke rakyat”, tapi “bicara seperti rakyat”.

Penelitian ini juga menyebut ada peran penting tim media di belakang layar. Dalam istilah populernya, ini semacam “amplifier”.

Apa yang dilakukan di lapangan, diperkuat lagi lewat media sosial dan kanal informasi lainnya.

Jadi gaungnya tidak putus di satu titik, tapi terus berulang dan membentuk persepsi publik.

Dalam teori Harold D. Lasswell, komunikasi itu soal “siapa mengatakan apa, lewat saluran apa, kepada siapa, dan efeknya bagaimana”.

Nah, pola ini terlihat jalan di Sidrap—pesan yang dibangun nyampe, bahkan nempel di benak masyarakat.

Menariknya lagi, penelitian ini juga menyinggung sisi psikologis. Ada semacam “zona nyaman” yang terbentuk dari apresiasi masyarakat.

Dalam pendekatan Sigmund Freud, respon positif itu bisa jadi dorongan bawah sadar untuk terus mengulang pola yang sama—dalam hal ini, gaya komunikasi yang merakyat tadi.

Jadi, kalau ditarik ke bahasa sederhana: semakin sering dipuji karena dekat dengan rakyat, semakin kuat juga dorongan untuk terus tampil seperti itu.

Ujungnya, citra populis itu bukan jatuh dari langit. Ia terbentuk dari pertemuan antara kondisi masyarakat Sidrap dengan strategi komunikasi yang konsisten.

Dalam istilah kerennya, ini disebut “match” antara konteks sosial dan gaya kepemimpinan.

Simpelnya begini: kalau pemimpin ngomongnya nyambung, sikapnya terasa dekat, dan kehadirannya dirasa nyata—kepercayaan itu datang sendiri.

Dan di Sidrap, menurut penelitian ini, pola itu sudah terbaca jelas pada sosok Syaharuddin Alrif. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.