Sidrap, katasulsel.com — Detik-detik menuju keberangkatan ke Tanah Suci mulai terasa bagi ratusan Calon Jemaah Haji (CJH) asal Sidenreng Rappang.
Sebanyak 361 jamaah yang tergabung dalam Kloter 40 kini memasuki fase “pemanasan akhir” sebelum benar-benar terbang pada 19 Mei 2026.
Bertempat di aula Kantor Kementerian Haji dan Umrah Sidrap, Senin (4/5/2026), kegiatan manasik digelar dengan nuansa serius namun penuh harap.
Bagi para jamaah, ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan “upgrade spiritual” sebelum menjalani ibadah terbesar dalam hidup mereka.
Setiap materi yang disampaikan bukan hanya teori. Ini adalah simulasi nyata—mulai dari niat, ihram, hingga puncak ibadah di Arafah yang sering disebut sebagai “titik klimaks” perjalanan haji.
Praktisi haji Bunyamin Yapid menegaskan bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi perjalanan mental dan spiritual.
“Kalau hanya fisik yang siap, itu belum cukup. Jamaah harus paham ilmunya, karena di sana semua serba terstruktur dan padat,” jelasnya.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, manasik ini ibarat “briefing sebelum misi besar”. Tanpa pemahaman yang utuh, jamaah bisa kehilangan arah di tengah padatnya rangkaian ibadah.
Sementara itu, Kepala Kementerian Haji dan Umrah Sidrap, Shairin, memastikan seluruh jamaah Kloter 40 sudah melewati proses panjang.
Mulai dari administrasi, pemeriksaan kesehatan, hingga pembinaan mental, semua dirancang agar jamaah benar-benar siap.
“361 jamaah ini akan berangkat 19 Mei. Kami pastikan mereka tidak hanya siap berangkat, tapi juga siap menjalankan ibadah dengan baik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, sebagian jamaah Sidrap telah lebih dulu diberangkatkan pada April lalu. Kloter 40 menjadi rombongan lanjutan yang kini sedang difokuskan pada pemantapan akhir.
Di balik kegiatan ini, tersimpan harapan besar. Bagi keluarga di rumah, keberangkatan ini adalah doa yang dititipkan. Bagi jamaah, ini adalah perjalanan hidup yang tidak semua orang dapatkan.
Manasik pun menjadi titik penting—tempat menyatukan niat, ilmu, dan kesiapan.
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang berangkat ke Tanah Suci, tapi tentang bagaimana pulang membawa perubahan. (*)
