Wajo, katasulsel.com – Pelepasan jamaah haji biasanya identik dengan seremoni, sambutan, lalu lambaian tangan. Tapi di Baruga Lasangkuru Islamic Center Palaguna, Kecamatan Pammana, Rabu (22/4/2026), ada momen yang membuat suasana terasa berbeda—lebih dekat, lebih personal, dan tak biasa.

Bupati Wajo Andi Rosman tak hanya berdiri di podium memberi sambutan. Ia bersama Wakil Bupati dr Baso Rahmanuddin justru naik langsung ke atas bus, menyapa satu per satu jamaah, menyampaikan doa, bahkan memberi semangat dari jarak yang nyaris tanpa sekat.

Di titik itulah pelepasan berubah dari sekadar seremoni menjadi “perpisahan emosional”.

Sebanyak 1.941 calon jamaah haji Wajo resmi dilepas menuju Tanah Suci. Angka ini bukan hanya terbesar di Sulawesi Selatan, tetapi juga menjadi semacam “gelombang besar” yang membawa nama Wajo ke panggung ibadah dunia.

“Ini bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi juga membawa identitas daerah kita,” ujar Andi Rosman di hadapan jamaah.

Namun yang menarik bukan hanya jumlahnya, melainkan pesan yang disisipkan di balik pelepasan itu. Bupati tidak hanya bicara soal ibadah, tetapi juga soal “menjaga karakter Wajo” di tengah jutaan manusia dari berbagai negara.

Ia menekankan nilai Yassiwajori—yang dalam konteks ini diterjemahkan sebagai kebersamaan dan persatuan (massiddi). Sebuah pesan lokal yang dibawa ke ruang global.

“Kita buktikan masyarakat Wajo itu bersatu. Jaga nilai itu dari berangkat sampai kembali,” tegasnya.

Di tengah riuh keluarga yang mengantar dan suasana haru yang tak terhindarkan, pesan tentang kesehatan juga disampaikan dengan nada serius. Bupati mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri, menjaga fisik, dan terbuka kepada petugas jika mengalami gangguan kesehatan.

Sementara itu, kehadiran unsur Forkopimda, Kementerian Agama, hingga para pembimbing haji memperlihatkan bahwa pelepasan ini bukan hanya urusan spiritual, tetapi juga “operasi besar” yang melibatkan banyak pihak.

Namun tetap saja, momen yang paling membekas adalah ketika kepala daerah memilih naik ke bus—bukan sekadar simbol, tapi gestur yang memberi kesan: jamaah tidak dilepas dari jauh, tapi diantar hingga ke titik keberangkatan paling dekat.

Di tengah deretan bus yang mulai bergerak perlahan, satu hal terasa berbeda dari pelepasan kali ini: bukan hanya jumlahnya yang besar, tapi juga cara melepasnya yang terasa lebih manusiawi.

Dan dari Wajo, 1.941 langkah itu kini bergerak menuju satu tujuan yang sama—dengan doa, harapan, dan identitas yang ikut dibawa bersama. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita