Wajo, Katasulsel.com – Hari Pendidikan Nasional tak sekadar diperingati, tetapi dihidupkan dengan nilai. Di lingkungan Pondok Pesantren Daarul Mu’minin (Damu) As’adiyah Doping, momentum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penegasan arah pendidikan: membangun generasi yang tak hanya cerdas, tapi juga berakhlak.
Upacara yang digelar Senin (4/5/2026) itu berlangsung khidmat di halaman pesantren. Seluruh elemen ikut ambil bagian—mulai dari peserta didik tingkat KB/RA, MTs, MA, hingga santri Tahfizhul Qur’an. Para guru dan tenaga kependidikan pun hadir, menyatu dalam suasana penuh makna.
Yang menarik, nuansa lokal terasa kuat. Pakaian adat Bugis dikenakan sebagai simbol bahwa pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya. Di sinilah identitas lokal bertemu dengan nilai universal pendidikan.
Wakil Pimpinan Ponpes Damu As’adiyah Doping, K.H. Amiruddin Amin, bertindak sebagai pembina upacara. Ia membacakan pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas elemen dalam membangun pendidikan berkualitas dan merata.
Bagi Amiruddin, pesan itu bukan sekadar formalitas tahunan. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama—tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah atau pesantren semata.
“Kita ingin pendidikan di pesantren tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai keislaman dan budaya,” ujarnya.
Pernyataan itu menggambarkan arah yang jelas: pesantren tidak hanya mencetak lulusan pintar, tetapi juga membentuk karakter. Sebuah fondasi yang sering kali justru menjadi pembeda di tengah tantangan zaman.
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Damu As’adiyah Doping, KM. Agustan Ranreng, mengingatkan bahwa peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap 2 Mei merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa Ki Hajar Dewantara—tokoh yang meletakkan dasar pendidikan nasional.
Namun lebih dari itu, Hardiknas adalah momentum untuk menegaskan kembali komitmen. Terutama dalam membangun generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga berintegritas.
Tahun ini, Hardiknas mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Sebuah tema yang menegaskan bahwa pendidikan bukan urusan satu pihak, melainkan kerja kolektif seluruh elemen bangsa.
Di Ponpes Damu As’adiyah Doping, semangat itu terasa nyata. Dari barisan santri hingga para guru, semua bergerak dalam satu irama: membangun masa depan lewat pendidikan yang utuh.
Karena di tempat seperti inilah, generasi bangsa ditempa—bukan hanya dengan ilmu, tapi juga dengan nilai. (*)
