Katasulsel.com — Di balik klaim Militer Israel yang menghancurkan terowongan sepanjang 80 meter milik Hizbullah di Lebanon Selatan, ada sisi lain yang tak kalah menarik: perang kini bukan cuma di darat atau udara, tapi juga di bawah tanah.

Terowongan bukan sekadar “jalan tikus”. Dalam konflik modern, ini ibarat jalur rahasia super strategis—bisa dipakai untuk menyusup, menyimpan senjata, hingga menghindari pantauan drone. Bahasa gampangnya, ini “perang senyap” yang tak selalu terlihat, tapi dampaknya besar.

Bagi Hizbullah, jaringan bawah tanah seperti ini adalah cara untuk mengimbangi kekuatan militer Israel yang lebih canggih. Sementara bagi Israel, menghancurkan terowongan berarti memotong “urat nadi” pergerakan lawan.

Makanya, operasi ini bukan cuma soal satu terowongan dihancurkan. Ini bagian dari “adu strategi tersembunyi” yang menentukan siapa lebih unggul dalam permainan tak terlihat.

Menariknya lagi, klaim ditemukannya lebih dari 100 sarana tempur dalam sepekan oleh Brigade ke-401 memberi sinyal bahwa konflik ini sedang masuk fase intens—bukan lagi sporadis, tapi sudah sistematis.

Ada juga sisi “perang narasi” yang ikut bermain. Setiap klaim keberhasilan bukan cuma ditujukan ke lawan, tapi juga ke publik internasional. Istilah populernya, ini semacam “show of force”—unjuk kekuatan untuk membangun persepsi siapa yang lebih dominan.

Di tengah itu, rencana Israel membuat zona penyangga 10 kilometer bisa dibaca sebagai langkah mengubah pola konflik. Bukan sekadar menyerang lalu mundur, tapi mencoba menciptakan ruang kontrol permanen.

Kalau dianalogikan, ini seperti menggeser garis lapangan—bukan cuma bertahan di garis sendiri, tapi mendorong garis itu masuk ke area lawan.

Namun di sinilah kompleksitas muncul. Semakin dalam operasi dilakukan, semakin besar pula risiko konflik melebar. Apalagi wilayah perbatasan bukan ruang kosong—ada warga sipil, ada kepentingan regional, dan ada sorotan dunia.

Kesimpulannya, yang terjadi sekarang bukan sekadar baku tembak biasa. Ini adalah kombinasi “perang terbuka” dan “perang tersembunyi”, ditambah adu pengaruh di ruang publik.

Dan dalam konflik seperti ini, yang sering jadi penentu bukan cuma siapa paling kuat, tapi siapa paling cerdas membaca medan—baik yang terlihat, maupun yang tersembunyi

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.