Soppeng, katasulsel.com — Ada yang beda dari FKPPI Fun Run 2026 di Gasis Watansoppeng, Minggu (3/5). Bukan cuma soal jumlah peserta atau semangat olahraga, tapi bagaimana kota ini seolah “berubah wajah” dalam semalam.
Jalanan yang biasanya dipenuhi kendaraan, mendadak jadi lintasan lari. Ruas-ruas seperti Jalan Kesatria, Jalan Pemuda, hingga Jalan Kemakmuran yang tiap hari sibuk, pagi itu berubah jadi ruang publik yang lebih humanis—dipenuhi pelari, tawa, dan interaksi hangat antarwarga.
Inilah sisi uniknya: kota bukan lagi sekadar tempat lewat, tapi jadi ruang hidup bersama.
Kegiatan yang digelar FKPPI Cabang Soppeng ini juga memperlihatkan “pencampuran” sosial yang jarang terjadi. Tak ada sekat—warga biasa, aparat, pemuda, hingga ibu-ibu semua melebur dalam satu barisan.
Istilah kerennya, ini melting pot versi lokal. Tapi kalau bahasa santainya: semua jadi “satu tim” di jalanan.
Hal lain yang menarik, Fun Run ini bukan sekadar event olahraga kompetitif. Banyak peserta datang bukan untuk menang, tapi untuk “hadir”. Ada yang lari santai, ada yang jalan cepat, bahkan ada yang sekadar menikmati suasana.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran makna olahraga—dari yang dulu identik dengan kompetisi, kini jadi ajang ekspresi sosial.
Kapolres Soppeng, Aditya Perdana, melihat ini sebagai energi positif. Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya soal fisik, tapi juga memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.
Dukungan juga datang dari Ketua Bhayangkari, Ageng Aditya, yang menilai kehadiran perempuan dalam kegiatan ini jadi sinyal bahwa kesadaran hidup sehat makin merata.
Yang tak kalah unik, unsur “hiburan” juga terasa kuat. Doorprize dan hadiah membuat suasana lebih cair—seolah ini bukan lomba formal, tapi festival rakyat. Ada sensasi “siapa tahu pulang bawa hadiah”, yang bikin peserta makin antusias.
Di balik semua itu, pengamanan dari Polres Soppeng memastikan kegiatan tetap tertib. Jadi meski santai, tetap terorganisir.
Kesimpulannya, Fun Run ini bukan cuma soal olahraga atau seremoni. Ini contoh bagaimana sebuah kota bisa “hidup bersama” dalam satu momentum.
Kalau biasanya orang sibuk dengan urusan masing-masing, hari itu Soppeng seperti bilang: “kita bisa lari bareng, tanpa sekat.”
Dan justru di situlah nilai paling mahalnya.
