Makassar, katasulsel.com — Dunia birokrasi Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali berduka.

Sosok birokrat senior Tautoto Tana Ranggina Sarongallo, yang pernah menjabat sebagai Penjabat Bupati Soppeng dan Penjabat Bupati Toraja Utara, meninggal dunia pada Sabtu malam, 25 April 2026, di Makassar.

Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang aparatur sipil negara yang malang melintang di berbagai jabatan strategis pemerintahan daerah, termasuk di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Tautoto dikenal sebagai figur birokrat “lapangan” yang kerap ditempatkan pada masa transisi pemerintahan daerah. Ia pernah dipercaya memimpin Toraja Utara pada masa awal pembentukan daerah tersebut, serta kemudian mengisi posisi serupa di Kabupaten Soppeng.

Di luar jabatan pemerintahan, almarhum juga dikenal sebagai akademisi yang menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor dari Universitas Hasanuddin (Unhas).

Disertasinya bahkan membahas isu pelayanan publik dan tata kelola pajak daerah, yang mencerminkan kedekatannya dengan dunia birokrasi yang ia jalani.

Dalam perjalanan kariernya, Tautoto juga pernah menduduki jabatan penting di Pemprov Sulsel, termasuk di sektor pendapatan daerah dan administrasi pemerintahan. Rekam jejak itu membuatnya dikenal sebagai salah satu “pamong senior” yang memahami banyak lapisan birokrasi daerah.

Kabar wafatnya Tautoto sontak menjadi perhatian kalangan pemerintahan dan rekan sejawat. Sejumlah pejabat menyampaikan duka mendalam atas kepergian sosok yang dikenal tenang, teknokratik, dan jarang tampil dalam sorotan politik.

Meski tidak selalu berada di panggung utama, namanya kerap muncul dalam fase-fase penting transisi pemerintahan daerah di Sulawesi Selatan. Dari ruang kerja birokrasi hingga ruang akademik, ia meninggalkan jejak yang tidak pendek.

Jenazah almarhum rencananya dimakamkan di Makassar, diiringi keluarga, kerabat, serta kolega birokrasi yang pernah bekerja bersamanya.

Kepergiannya menjadi pengingat bahwa di balik jalannya roda pemerintahan daerah, ada sosok-sosok teknokrat yang bekerja senyap—mengatur, menjaga stabilitas, lalu perlahan menghilang dari panggung, meninggalkan catatan pengabdian. (*)

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif