Gowa, katasulsel.com — Biasanya siswa sekolah dasar belajar dari buku dan papan tulis. Namun suasana berbeda terlihat di SD Inpres Mala’lang, Desa Lonjoboko, Kabupaten Gowa, Sabtu (13/6/2026).

Puluhan siswa justru berlarian, memecahkan teka-teki, mencari petunjuk bergambar, dan bermain dalam kelompok. Sekilas tampak seperti permainan biasa. Padahal, mereka sedang belajar satu hal penting: bagaimana menyelamatkan diri saat tanah longsor datang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pakkatuju yang dijalankan Tim PPK Ormawa SPACE Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Melalui pendekatan Game Based Preparedness Education, edukasi kebencanaan dikemas menjadi aktivitas yang menyenangkan agar lebih mudah dipahami anak-anak.

Sejak pagi, kedatangan mahasiswa disambut antusias para siswa. Suasana sekolah yang berada di kawasan perbukitan itu berubah menjadi ruang belajar terbuka tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kepala SD Inpres Mala’lang, Yusrin, menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pendidikan mitigasi bencana sangat relevan bagi anak-anak yang tinggal di wilayah dengan potensi longsor.

“Kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat yang bisa diterapkan oleh guru maupun peserta didik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Sebelum permainan dimulai, siswa mendapat pembekalan dari dosen praktisi Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Hasanuddin, Ichsan Caesar Pratama. Dengan bahasa sederhana dan media visual yang menarik, ia menjelaskan tanda-tanda longsor, langkah evakuasi mandiri, serta cara mengurangi risiko saat bencana terjadi.

Menurut Ichsan, bencana memang tidak dapat diprediksi kapan akan datang. Namun kesiapan menghadapi bencana dapat dipelajari sejak usia dini.

“Kita tidak bisa menentukan kapan longsor terjadi, tetapi kita bisa mempersiapkan diri agar lebih siap dan selamat ketika bencana datang,” katanya di hadapan para siswa.

Materi kemudian dipraktikkan melalui berbagai permainan edukatif di halaman sekolah. Anak-anak diajak mengenali tanda-tanda longsor, menentukan barang yang harus diselamatkan saat evakuasi, hingga memilih tindakan yang tepat dalam situasi darurat.

Metode belajar sambil bermain tersebut membuat para siswa lebih aktif dan mudah memahami materi yang diberikan. Mereka tidak hanya mendengar teori, tetapi juga mempraktikkan langsung cara menghadapi ancaman bencana.

Selain meningkatkan pengetahuan mitigasi, permainan juga melatih kemampuan bekerja sama, komunikasi, berpikir kritis, serta pengambilan keputusan dalam kondisi darurat.

Menariknya, edukasi tidak berhenti pada permainan. Tim PPK Ormawa SPACE FT-UH juga menyisipkan cerita pendek bertema kebencanaan yang dipadukan dengan kuis interaktif. Cara ini membuat peserta didik tetap fokus sekaligus memperkuat pemahaman mereka tentang pentingnya kesiapsiagaan.

Bagi Desa Lonjoboko yang berada di kawasan rawan longsor, kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar kunjungan mahasiswa. Ia menjadi investasi pengetahuan bagi generasi muda agar mampu mengenali risiko di lingkungannya dan tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang tanpa peringatan. (*)