Oleh: Edy Basri

Saya termasuk yang menyayangkan.

Bukan soal istilah “Londo Ireng”-nya.

Bukan pula soal siapa yang merasa tersinggung.

Yang saya sayangkan adalah: kenapa mesti diucapkan oleh Prabowo?

Kenapa mesti oleh Presiden Republik Indonesia?

Karena begitu kalimat itu keluar dari mulut Presiden, ia bukan lagi sekadar kalimat.

Ia berubah menjadi peristiwa.

Menjadi perdebatan.

Menjadi kegaduhan nasional.

Dan itulah yang terjadi hari ini.

Indonesia kembali sibuk.

Wartawan ribut.

LSM ribut.

Pengamat ribut.

Politisi ikut nimbrung.

Netizen tentu lebih ribut lagi.

Padahal negeri ini sedang punya banyak pekerjaan rumah yang lebih penting untuk dibahas.

Yang membuat saya geleng-geleng kepala, setelah pidato itu viral, bermunculan para penjelas.

Ada yang bilang masyarakat salah paham.

Ada yang bilang Presiden tidak bermaksud begitu.

Ada yang bilang wartawan tidak sedang dituduh.

Ada yang bilang LSM tidak sedang diserang.

Ada yang bilang itu hanya ditujukan kepada oknum.

Baiklah.

Saya percaya.

Tapi kalau memang harus dijelaskan sepanjang itu, berarti ada sesuatu yang gagal sejak awal.

Namanya komunikasi.

Seorang Presiden semestinya berbicara untuk dipahami.

Bukan untuk diterjemahkan.

Apalagi sampai membutuhkan “tim ahli tafsir” setelah pidato selesai.

Kadang saya berpikir, Prabowo ini unik.

Beliau punya keberanian yang besar.

Punya energi yang besar.

Punya kharisma yang besar.

Tetapi sering kali kata-katanya berjalan lebih cepat daripada kehati-hatiannya.

Akibatnya, yang seharusnya menjadi pesan malah berubah menjadi polemik.

Yang seharusnya menjadi substansi malah berubah menjadi kontroversi.

Dan yang seharusnya menjadi diskusi kebangsaan malah berubah menjadi adu tafsir.

Sayang sekali.

Karena jabatan Presiden itu berbeda.

Sangat berbeda.

Kalau saya yang bicara ngawur di warung kopi, paling yang mendengar lima orang.

Kalau camat yang salah bicara, paling satu kecamatan yang ribut.

Kalau bupati yang salah ucap, satu kabupaten yang gaduh.

Tapi kalau Presiden?

Satu Indonesia.

Bahkan mungkin sampai luar negeri.

Itulah mengapa Presiden seharusnya menjadi orang yang paling hati-hati memilih kata.

Bukan karena takut dikritik.

Tetapi karena setiap kata Presiden memiliki akibat.

Masalahnya, Prabowo tampaknya lebih nyaman berbicara spontan.

Kadang seperti sedang berbincang dengan sahabat lama.

Kadang seperti sedang berpidato di depan pasukan.

Kadang seperti sedang berceloteh di ruang keluarga.

Padahal yang mendengar bukan teman dekat.

Yang mendengar adalah rakyat Indonesia.

Dari Sabang sampai Merauke.

Dari profesor sampai tukang becak.

Dari pendukung sampai pengkritik.

Semua mendengar.

Semua menafsirkan.

Dan semua punya hak untuk menafsirkan.

Karena itulah seorang Presiden tidak boleh memberi terlalu banyak ruang tafsir.

Begitu ruang tafsir dibuka lebar-lebar, yang masuk bukan hanya pemahaman.

Tapi juga kesalahpahaman.

Dan ketika kesalahpahaman sudah telanjur berlari, klarifikasi biasanya sudah terlambat mengejar.

Yang lebih ironis, akhirnya bukan Presiden yang sibuk menjelaskan.

Melainkan orang lain.

Ketua organisasi pers menjelaskan.

Juru bicara menjelaskan.

Pendukung menjelaskan.

Analis menjelaskan.

Netizen pendukung menjelaskan.

Seolah-olah seluruh negeri mendapat pekerjaan tambahan: menerjemahkan pidato Presiden.

Padahal tugas mereka bukan itu.

Tugas wartawan meliput.

Tugas akademisi mengajar.

Tugas petani menanam.

Tugas nelayan melaut.

Bukan menjadi penerjemah pidato.

Karena itu, sekali lagi saya bertanya:

Kenapa mesti Prabowo?

Kenapa Presiden harus masuk ke dalam kubangan kontroversi yang sebenarnya bisa dihindari?

Kenapa Presiden harus membuat rakyat sibuk membahas istilah, sementara begitu banyak persoalan bangsa menunggu perhatian?

Saya tidak meragukan niatnya.

Tetapi seorang Presiden tidak cukup hanya punya niat baik.

Ia juga harus mampu menyampaikan niat itu dengan baik.

Karena dalam politik, yang diingat publik bukan apa yang dimaksud.

Yang diingat adalah apa yang diucapkan.

Dan dalam kasus ini, yang tertinggal di kepala rakyat bukan penjelasannya.

Melainkan kegaduhannya.

Sangat disayangkan.

Karena sekelas Presiden Republik Indonesia, publik berharap mendengar kata-kata yang mempersatukan.

Bukan kata-kata yang membuat satu negeri kembali sibuk berdebat tentang apa yang sebenarnya beliau maksud. (*)

Topik Daerah:
SidrapWajoPinrangParepareBarruSoppengEnrekang
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Viral Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Viral hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Viral terbaru di sini