Penulis:
Muh. Fawwas Resqullah

SIDRAP, KATASULSEL.COM — Hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh senyap.

Penyakit ini kerap datang tanpa gejala, namun dapat memicu stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kematian jika tidak terdeteksi sejak dini.

Kondisi itulah yang mendorong mahasiswa KKN Profesi S1 Keperawatan Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi kesehatan berbasis masyarakat bernama SIPATUH (Sistem Pemantauan Terpadu Hipertensi Berbasis Masyarakat) di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sidrap.

Program yang digagas oleh Muh. Fawwas Resqullah bersama tim KKN Profesi Kesehatan Unhas ini tidak sekadar memberikan penyuluhan biasa. Masyarakat bahkan akan dipantau secara berkelanjutan melalui kunjungan langsung dari rumah ke rumah.

Kegiatan perdana berlangsung pada 24 Juli 2026 dan melibatkan warga Kelurahan Amparita yang antusias mengikuti rangkaian pemeriksaan kesehatan.

Sebelum mendapatkan materi edukasi, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan tekanan darah.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya skrining dini untuk mengetahui apakah peserta memiliki risiko hipertensi atau tidak.

Setelah pemeriksaan, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka mengenai hipertensi dan dampaknya terhadap kesehatan.

Hasilnya menjadi dasar bagi tim untuk menentukan pendekatan edukasi yang tepat kepada masyarakat.

Dalam penyampaian materi, Muh. Fawwas Resqullah menjelaskan bahwa hipertensi bukan sekadar tekanan darah tinggi biasa.

Menurutnya, banyak penderita baru menyadari penyakit tersebut setelah muncul komplikasi yang lebih berat.

Karena itu, masyarakat perlu memahami faktor risiko, tanda dan gejala, hingga langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.

Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam, membatasi makanan tinggi natrium, memperbanyak aktivitas fisik, serta menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana edukasi berlangsung interaktif.

Warga tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif bertanya mengenai kondisi kesehatan yang mereka alami.

Sebagian peserta bahkan mengaku baru mengetahui bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan asin dan jarang memeriksa tekanan darah dapat meningkatkan risiko hipertensi.

Untuk memperkuat pemahaman masyarakat, tim KKN juga membagikan leaflet edukasi yang berisi informasi lengkap mengenai hipertensi.

Leaflet tersebut diharapkan menjadi panduan sederhana yang dapat dibaca kembali oleh masyarakat setelah kegiatan selesai.

Namun yang membuat SIPATUH berbeda dari program kesehatan pada umumnya adalah adanya sistem pemantauan lanjutan.

Mahasiswa KKN tidak berhenti pada penyuluhan semata.

Mereka telah menyiapkan agenda kunjungan door to door atau dari rumah ke rumah pada pekan berikutnya.

Melalui kunjungan tersebut, peserta akan kembali dievaluasi melalui post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan sekaligus memastikan pesan-pesan kesehatan yang telah diberikan benar-benar dipahami dan diterapkan.

Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku kesehatan yang lebih nyata di tengah masyarakat.

Muh. Fawwas Resqullah menjelaskan bahwa hipertensi menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus meningkat setiap tahun.

Karena itu, pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan masyarakat.

Melalui SIPATUH, warga Amparita diharapkan tidak lagi menunggu sakit untuk memeriksakan diri.

Sebaliknya, masyarakat didorong lebih aktif memantau tekanan darah dan menjaga pola hidup sehat sebelum komplikasi terjadi.

Program ini dilaksanakan di bawah bimbingan dr. Nuria Iftitah Dedikasih Dachlan, M.Biomed selaku Dosen Pendamping Kegiatan (DPK), serta mendapat dukungan dari UPT Puskesmas Amparita dan pemerintah setempat.

Bagi warga Amparita, SIPATUH bukan sekadar kegiatan mahasiswa KKN.

Program ini menjadi pengingat bahwa tekanan darah tinggi bisa datang diam-diam.

Dan ketika masyarakat mulai rutin memeriksakan diri, memahami faktor risiko, serta mengubah pola hidup, maka “pembunuh senyap” itu bisa dideteksi sebelum terlambat. (*)

Topik Daerah:
SidrapWajoPinrangParepareBarruSoppengEnrekang
Topik Terkait:
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
Temukan berita terbaru dan terkini seputar Sidrap hanya di Katasulsel.com

👉 Lihat semua berita Sidrap terbaru di sini