Sidrap, Katasulsel.com – Di Danau Sidenreng, air tidak berhenti sebagai bentang perairan. Dari permukaannya, nelayan mencari ikan. Dari airnya, petani mengandalkan pasokan untuk sawah. Di tepian yang sama, sejarah Sidenreng dan tradisi masyarakat terus meninggalkan jejak.
Danau Sidenreng berada di wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Kawasannya bersinggungan dengan Kecamatan Watang Sidenreng, Tellu Limpoe, dan Panca Lautang.
Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang menempatkan Danau Sidenreng sebagai kawasan yang memiliki fungsi perikanan, pertanian, wisata alam, sekaligus kawasan yang perlu mendapat perlindungan.
Namun, hubungan masyarakat dengan danau telah berlangsung jauh sebelum kawasan tersebut dibicarakan dalam kerangka pengembangan wisata.
Jejak Nama Sidenreng di Tepian Danau
Nama Danau Sidenreng berkaitan dengan salah satu cerita mengenai asal-usul Sidenreng.
Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang mencatat salah satu versi sejarah tersebut dalam kisah yang bersumber dari lontarak Mula Ritimpakna Tanae ri Sidenreng.
Kisah itu menceritakan perjalanan delapan keturunan Raja Sangalla yang meninggalkan daerah asal mereka. Dalam perjalanan, mereka tiba di sebuah kawasan dengan hamparan air.
Ketika mencari jalan menuju tepian, kedelapan orang tersebut disebut saling bergandengan tangan. Peristiwa itu dikaitkan dengan istilah sireng-rengreng.
Mereka kemudian memilih kawasan di sebelah barat danau untuk bermukim dan membangun perkampungan. Tempat tersebut disebut Sidenreng. Sementara perairan di kawasan itu kemudian dikenal sebagai Danau Sidenreng.
Cerita tersebut merupakan salah satu versi yang dicatat dalam sejarah Kabupaten Sidenreng Rappang. Karena itu, hubungan antara nama Sidenreng dan danau muncul dalam satu rangkaian cerita mengenai perjalanan, permukiman, dan terbentuknya kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.
Dari Danau, Warga Mencari Ikan
Danau Sidenreng memiliki fungsi penting bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Penelitian IPB University mengenai ekosistem Danau Sidenreng mencatat bahwa perairan tersebut dimanfaatkan sebagai sumber ikan, lahan pertanian, dan sumber air bagi masyarakat.
Penelitian tersebut mengambil lokasi pengamatan di sejumlah kawasan, termasuk Mojong, Wette’e, Teteaji, dan Sidenreng.
Fungsi perikanan tersebut masih terlihat dalam berbagai kegiatan di kawasan Danau Sidenreng.
Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Sidrap melakukan penebaran benih ikan di sejumlah titik danau. Sebanyak 188 ribu benih ikan ditebar di Desa Mojong. Sebelumnya, 200 ribu benih telah ditebar di Teteaji dan Wette’e.
Penebaran benih dilakukan untuk menjaga populasi ikan sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan di danau.
Penelitian yang dilakukan IPB University pada 2025 juga menunjukkan bahwa keberlanjutan perikanan Danau Sidenreng masih menghadapi tantangan.
Kajian tersebut menyoroti penggunaan jaring insang dengan ukuran mata jaring yang relatif kecil. Alat tangkap tersebut berpotensi menangkap ikan yang belum mencapai ukuran matang gonad.
Penelitian itu merekomendasikan penggunaan ukuran mata jaring yang lebih selektif agar kegiatan penangkapan ikan tetap dapat berlangsung tanpa menekan keberlanjutan sumber daya ikan.
Ketika Air Danau Mengalir ke Sawah
Kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sidenreng tidak hanya berkaitan dengan aktivitas di atas air.
Air danau juga dibutuhkan untuk pertanian.
Hal itu terlihat ketika musim kemarau memengaruhi ketersediaan air bagi persawahan. Pemerintah Kabupaten Sidrap pada 2026 meninjau pemanfaatan air Danau Sidenreng untuk membantu memenuhi kebutuhan pertanian di sejumlah wilayah.
Di Wette’e, Lajonga, Bapangi, Lise, hingga Alessalewo, pemanfaatan air danau menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga pasokan air bagi lahan pertanian.
Upaya serupa dilakukan di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng.
Pada September 2026, pemerintah daerah membangun jaringan untuk mengalirkan air Danau Sidenreng menuju persawahan warga. Jarak antara danau dan lahan pertanian tersebut sekitar satu kilometer.
Air dari danau dialirkan ke sawah untuk membantu menjaga ketersediaan air pada musim kemarau.
Di titik ini, fungsi Danau Sidenreng terlihat dari hubungan antara perairan dan lahan pertanian. Air yang berada di danau menjadi bagian dari aktivitas warga yang berlangsung di daratan.
Danau Sidenreng dalam Tradisi Masyarakat
Hubungan warga dengan Danau Sidenreng juga memiliki dimensi budaya.
Salah satunya terlihat dalam tradisi Maccera’ Tappareng.
Tradisi tersebut menjadi objek penelitian Universitas Negeri Makassar di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng. Penelitian tersebut secara khusus mengkaji pelaksanaan Maccera’ Tappareng di Danau Sidenreng serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Sidrap juga mencatat Maccera’ Tappareng di Kelurahan Wette’e sebagai bagian dari potensi pariwisata budaya.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa danau memiliki posisi dalam kehidupan sosial masyarakat. Perairan tidak hanya dimanfaatkan karena fungsi ekonominya, tetapi juga hadir dalam praktik budaya yang diwariskan di lingkungan masyarakat sekitar.
Eceng Gondok dan Ikan Sapu-Sapu
Di balik berbagai fungsi tersebut, Danau Sidenreng juga menghadapi persoalan lingkungan.
Eceng gondok menjadi salah satu persoalan yang muncul di kawasan danau. Pertumbuhan tanaman air tersebut dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama ketika menutupi bagian permukaan perairan.
Penelitian mengenai ekosistem Danau Sidenreng juga mencatat keberadaan eceng gondok dan dampaknya terhadap aktivitas perikanan serta pergerakan di kawasan perairan.
Selain eceng gondok, ikan sapu-sapu juga menjadi perhatian.
Di Desa Mojong, ikan sapu-sapu ditemukan dalam jumlah yang cukup banyak. Warga kemudian mencoba memanfaatkannya sebagai bahan pakan ternak.
Pada 2026, Pemerintah Kabupaten Sidrap melaporkan pengolahan ikan sapu-sapu dan eceng gondok sebagai bagian dari bahan pakan ternak di kawasan sekitar Danau Sidenreng.
Pemanfaatan tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menghadapi keberadaan sumber daya yang sebelumnya dianggap mengganggu ekosistem danau.
Pemerintah daerah juga melakukan pembersihan eceng gondok di kawasan Danau Sidenreng. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah, aparat, dan masyarakat.
Danau Sidenreng sebagai Ruang Wisata
Selain perikanan, pertanian, dan budaya, Danau Sidenreng juga dikembangkan sebagai kawasan wisata.
Desa Mojong menjadi salah satu kawasan yang memiliki aktivitas wisata di sekitar danau. Pemerintah daerah juga menyelenggarakan Festival Danau Sidenreng.
Pada 2025, festival tersebut memasuki penyelenggaraan ketiga. Kegiatannya mencakup pertunjukan budaya, lagu Bugis, olahraga tradisional, lomba perahu, hingga kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Festival tersebut juga diisi dengan penebaran benih ikan di kawasan danau.
Pengembangan wisata berjalan berdampingan dengan fungsi lain yang telah lebih dahulu melekat pada Danau Sidenreng. Di kawasan yang sama terdapat nelayan, petani, masyarakat yang menjalankan aktivitas peternakan, serta warga yang berinteraksi dengan danau dalam kegiatan sosial dan budaya.
Karena itu, perubahan fungsi kawasan Danau Sidenreng tidak hanya berkaitan dengan bagaimana danau dikunjungi, tetapi juga bagaimana perairan tersebut tetap digunakan oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Danau Sidenreng berada di antara berbagai kepentingan tersebut. Sejarah wilayah bertemu dengan aktivitas nelayan. Kebutuhan pertanian bertemu dengan persoalan ketersediaan air. Tradisi berjalan bersama kegiatan wisata. Sementara persoalan eceng gondok dan ikan sapu-sapu menjadi bagian lain dari kehidupan masyarakat di sekitar perairan tersebut.
