Sidrap, Katasulsel.com β Dosen Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), Muh. Wildan Mauludy, A.Md., S.Pd., M.Kom, mendorong mahasiswa baru untuk membangun pola pikir sebagai digitalpreneur.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menciptakan solusi dan peluang melalui teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Wildan saat menjadi pemateri dalam Training Digital Business (TDB) Himpunan Mahasiswa Bisnis Digital (HIMABISDIG) FEB UMS Rappang, Senin (14/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Collaborative Digitalpreneur: Kreatif, Kolaboratif, Berdampak Nyata” itu berlangsung di Ruang Perkuliahan 6 FEB UMS Rappang. Kegiatan diikuti 45 mahasiswa baru Program Studi Bisnis Digital.
Dalam kegiatan tersebut, Wildan yang merupakan Dosen IT Program Studi Bisnis Digital membawakan materi bertajuk “Mindset Digitalpreneur dan Mahasiswa Progresif”.
Wildan menjelaskan, digitalpreneur merupakan individu yang membangun usaha dengan memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan nilai, menjangkau pasar, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan.
Menurutnya, terdapat sejumlah karakter penting yang perlu dimiliki calon digitalpreneur.
Di antaranya berorientasi pada solusi, memahami kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dan inovasi, berani bereksperimen, serta menggunakan data sebagai dasar dalam mengambil keputusan.
“Mahasiswa bukan hanya pengguna aplikasi, tetapi pencipta solusi berbasis teknologi.”
Ia mengatakan perkembangan teknologi yang begitu cepat menuntut mahasiswa memiliki growth mindset. Mahasiswa tidak boleh takut terhadap perubahan maupun kegagalan karena keduanya merupakan bagian dari proses belajar.
“Jangan takut mencoba. Kegagalan merupakan bagian dari proses belajar, sedangkan peluang harus diciptakan secara proaktif,” kata Wildan dalam pemaparannya.
AI Jadi Partner Inovasi
Dalam materi tersebut, Wildan juga memperkenalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia bisnis digital. Mahasiswa dikenalkan pada penggunaan AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari riset pasar, pembuatan konten, pengembangan produk hingga otomatisasi bisnis.
Wildan menekankan AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman bagi kreativitas mahasiswa. Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi partner sekaligus akselerator dalam menghasilkan inovasi.
“AI bisa membantu kita menghasilkan ide, memahami kebutuhan pasar, mengembangkan produk, dan meningkatkan efisiensi bisnis,” jelasnya.
Selain kemampuan teknologi, mahasiswa juga didorong membangun empat karakter sebagai mahasiswa digital progresif, yakni Learner & Creator, Collaborator, Innovator, dan Impact Maker.
Keempat karakter tersebut diharapkan membentuk mahasiswa yang mau terus belajar, mampu berkolaborasi lintas bidang, berani menciptakan inovasi, serta menghasilkan dampak nyata bagi lingkungan, baik secara ekonomi maupun sosial.
Organisasi Jadi Laboratorium Digital
Wildan juga mengajak mahasiswa memanfaatkan organisasi kemahasiswaan sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menghasilkan proyek nyata.
Menurutnya, organisasi tidak seharusnya hanya menjadi tempat menjalankan kegiatan rutin.
Organisasi mahasiswa dapat menjadi laboratorium digital untuk mengembangkan proyek bisnis, membangun branding, mengelola teknologi, hingga memanfaatkan data dalam mengevaluasi kegiatan.
Mahasiswa juga diperkenalkan dengan tahapan sederhana dalam membangun proyek digital, yakni Identify, Create, Validate, Build, dan Scale.
Tahapan tersebut dimulai dengan mengidentifikasi masalah, merancang solusi, melakukan validasi, membangun produk atau layanan digital, kemudian memperluas dampaknya.
Melalui TDB HIMABISDIG, mahasiswa baru Program Studi Bisnis Digital diharapkan mulai membangun mindset digitalpreneur sejak awal perkuliahan.
Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang melalui pemanfaatan teknologi.
“Mahasiswa masa depan bukan hanya mereka yang pandai mencari peluang kerja, tetapi mereka yang berani menciptakan peluang. Teknologi menyediakan alat untuk melakukan perubahan, sementara pola pikir dan karakter menentukan arah perubahan tersebut,” pungkas Wildan. (*)
