Sidrap, Katasulsel.com β€” Jauh sebelum permainan anak-anak dipenuhi layar gawai, halaman rumah dan lapangan kampung menjadi tempat untuk menguji keberanian, keseimbangan, sekaligus kelincahan. Salah satunya melalui mallongga, permainan tradisional yang menggunakan dua batang bambu sebagai pijakan.

Di Sulawesi Selatan, mallongga juga dikenal sebagai permainan longga. Di daerah lain, bentuk permainan serupa lebih dikenal dengan nama egrang. Dalam permainan ini, anak harus berdiri di atas pijakan yang terpasang pada bambu, kemudian berjalan atau berlari sambil menjaga keseimbangan tubuh.

Permainan tersebut ternyata bukan sekadar soal siapa yang paling cepat sampai garis akhir. Pemain harus lebih dahulu menguasai cara berdiri di atas bambu. Satu kaki bertumpu pada pijakan, sementara kaki lainnya diangkat untuk mulai bergerak ketika permainan dimulai.

Kesalahan sedikit saja bisa membuat tubuh kehilangan keseimbangan.

Dalam kajian mengenai permainan tradisional Bugis-Makassar, alat mallongga dibuat dari dua batang bambu. Ukurannya dapat disesuaikan dengan pemain. Untuk pemain laki-laki, bambu disebut berukuran sekitar 2,5 meter dengan pijakan sekitar 50 sentimeter dari tanah. Sementara untuk pemain perempuan, ukurannya sekitar 2 meter dengan pijakan sekitar 30 sentimeter.

Bukan Sekadar Berjalan di Atas Bambu

Nama mallongga berkaitan dengan kata longga. Permainan ini juga memiliki cerita yang dikaitkan dengan sosok raksasa dalam cerita rakyat Bugis, yang digambarkan bertubuh tinggi dan besar melebihi manusia pada umumnya.

Karena menggunakan bambu yang membuat tubuh pemain berada lebih tinggi dari permukaan tanah, permainan ini secara sederhana menghadirkan pengalaman β€œmenjadi tinggi” seperti sosok dalam cerita tersebut.

Cara memainkannya pun membutuhkan latihan. Pemain harus terbiasa mengendalikan bambu dengan kedua tangan sekaligus mengatur langkah kaki. Setelah mampu berdiri dengan stabil, permainan dapat dilakukan dengan berjalan hingga berlari menuju garis akhir.

Dalam bentuk kompetitif, mallongga dapat dimainkan oleh lebih dari satu orang. Artinya, permainan yang tampak sederhana ini juga menghadirkan unsur persaingan antarpemain.

Pernah Masuk Festival Budaya Sidrap

Mallongga bukan sekadar permainan yang tinggal dalam cerita masa lalu. Pemerintah Kabupaten Sidrap pernah memasukkannya dalam rangkaian Festival Budaya Daerah pada 2013. Mallongga saat itu menjadi salah satu kategori lomba bersama maggasing, mappadendang, tarik tambang, dan sejumlah kegiatan budaya lainnya.

Sepuluh tahun kemudian, mallongga kembali muncul dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-679 Sidenreng Rappang pada Februari 2023. Pemerintah Kabupaten Sidrap menggelar lomba olahraga tradisional, termasuk egrang atau mallongga.

Sekretaris Daerah Sidrap saat itu menyebut perlombaan olahraga tradisional digelar sebagai bagian dari upaya mengingat dan melestarikan warisan olahraga tradisional.

Keberadaan mallongga dalam berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa permainan ini tidak sepenuhnya hilang. Bentuknya justru dapat dihidupkan kembali melalui festival, perlombaan, maupun kegiatan budaya.

Bagi anak-anak masa lalu, mallongga mungkin hanya bagian dari kesenangan bermain bersama teman. Namun, dari dua batang bambu dan pijakan sederhana itu, mereka belajar menjaga keseimbangan, berani mencoba, dan mengendalikan tubuh sebelum mampu bergerak lebih jauh.

Kini, ketika permainan tradisional semakin jarang terlihat dalam keseharian anak-anak, mallongga menyimpan cerita tentang bagaimana generasi sebelumnya menemukan kesenangan dari benda-benda sederhana di sekitar mereka.

Bukan sekadar berjalan di atas bambu, mallongga adalah cara anak-anak tempo dulu belajar menjaga keseimbanganβ€”secara harfiah maupun dalam permainan.(*)