Makassar, katasulsel.com — Hari itu semua orang mencari hal yang sama.
BBM.
Ada yang menunggu satu jam.
Ada yang dua jam.
Ada yang bahkan tidak tahu kapan antrean akan berakhir.
Barisan kendaraan mengular di depan SPBU.
Panas matahari terasa menyengat.
Sebagian pengendara memilih berteduh di bawah pohon.
Sebagian lagi tetap duduk di atas motornya sambil sesekali melihat ke depan, berharap antrean segera bergerak.
Di tengah situasi itu, muncul pemandangan yang tidak biasa.
Seorang pria datang.
Bukan membawa jeriken.
Bukan membawa surat rekomendasi.
Dan bukan pula membawa kabar bahwa BBM sudah tersedia.
Ia datang membawa minuman.
Namanya Lucky Usman Balo.
Ketika banyak orang sibuk mencari bahan bakar untuk kendaraan, Lucky justru sibuk mencari orang-orang yang kehausan.
Ia berjalan menyusuri antrean.
Menyapa warga.
Lalu membagikan minuman kepada mereka yang sedang menunggu giliran mendapatkan BBM.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Tapi justru di situlah letak keistimewaannya.
Karena tidak semua orang mau berhenti ketika melihat kesulitan orang lain.
Apalagi di tengah cuaca panas yang membuat semua orang lebih fokus pada urusannya masing-masing.
Seorang bapak yang sedang mengantre terlihat tersenyum saat menerima minuman itu.
Seorang pengendara lain langsung membuka botolnya dan meneguk sampai habis.
Mungkin karena haus.
Mungkin juga karena terharu.
Sebab yang diterima bukan sekadar minuman.
Tetapi perhatian.
Hari itu, yang langka bukan cuma BBM.
Perhatian juga terasa langka.
Dan Lucky memilih membagikannya.
Tanpa panggung.
Tanpa pengeras suara.
Tanpa pidato.
Ia hanya datang, memberi, lalu melanjutkan langkah.
Namun justru aksi sederhana seperti itu yang sering kali menyentuh hati banyak orang.
Karena masyarakat yang mengantre tidak sedang meminta uang.
Tidak meminta bantuan besar.
Mereka hanya sedang menjalani hari yang melelahkan.
Dan ketika ada seseorang yang datang membawa seteguk air di tengah panas yang membakar, rasanya jauh berbeda.
Media sosial sering dipenuhi kabar tentang kemarahan, pertengkaran, dan saling menyalahkan.
Tetapi hari itu, di sebuah antrean BBM yang panjang, ada cerita lain.
Cerita tentang seorang pria yang memilih berbagi ketika orang lain sedang menunggu.
Cerita tentang kebaikan yang nilainya mungkin kecil di mata sebagian orang, tetapi terasa besar bagi mereka yang menerimanya.
Karena ternyata, untuk membuat seseorang tersenyum di tengah kesulitan, tidak selalu dibutuhkan sesuatu yang mahal.
Kadang cukup sebotol minuman.
Dan seseorang yang peduli.
Hari itu, Lucky Usman Balo membawa keduanya. (edybasri)
