Oleh: Edy Basri
ADA yang menarik dari pergantian Kapolres Sidrap kali ini.
Bukan sekadar serah terima jabatan.
Bukan pula soal siapa datang dan siapa pergi.
Yang menarik justru karena dua nama yang bertukar kursi itu punya jejak yang hampir sama.
Tapi juga sangat berbeda.
AKBP Indra Waspada Yuda dan AKBP Fantry Taherong.
Dua-duanya bukan orang asing bagi Sidrap.
Dua-duanya pernah berkantor di Mapolres Sidrap.
Bahkan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.
Sekitar tahun 2017 silam.
Saat itu Indra Waspada Yuda menjabat Kasat Reskrim. Tidak lama kemudian ia bergeser menjadi Kasat Narkoba. Hanya pindah ruangan. Masih di gedung yang sama.
Sementara di sudut ruangan lain, AKBP Fantry Taherong menjabat Kasat Intelkam.
Mereka sama-sama perwira menengah yang sedang menanjak.
Sama-sama bekerja di bawah langit Sidrap.
Sama-sama mengenal karakter daerah yang dijuluki Bumi Nene Mallomo ini.
Tidak ada yang menyangka.
Sembilan tahun kemudian.
Keduanya justru bertemu lagi dalam posisi yang jauh lebih tinggi.
Fantry lebih dulu pulang.
Dua tahun lalu ia kembali ke Sidrap sebagai Kapolres.
Kini giliran Indra yang datang mengambil estafet.
Hari ini, melalui upacara Sertijab yang dipimpin Kapolda Sulsel di Aula Mappaoddang Polda Sulsel, AKBP Indra Waspada Yuda resmi menggantikan AKBP Fantry Taherong sebagai Kapolres Sidrap.
Fantry sendiri tidak sedang “diparkir”.
Ia justru naik kelas.
Mendapat promosi sebagai Kabagbinkar Ro SDM Polda Sulsel.
Kariernya terus bergerak.
Karena itu, jika melihat foto keduanya berdampingan, banyak kemiripan yang bisa ditemukan.
Sama-sama pernah menjadi kasat di Sidrap.
Sama-sama kembali ke Sidrap sebagai Kapolres.
Sama-sama dikenal dekat dengan anggota.
Sama-sama memahami medan sosial dan politik daerah ini.
Tetapi di sinilah cerita mulai berbeda.
Mirip.
Namun tidak sama.
Fantry Taherong dikenal sebagai sosok yang tenang. Pendekatannya banyak bermain di wilayah pembinaan, stabilitas organisasi, dan penguatan internal.
Di masa kepemimpinannya, situasi keamanan Sidrap relatif terkendali.
Tidak banyak kegaduhan.
Tidak banyak manuver yang mengundang kontroversi.
Ia bekerja dengan gaya yang rapi.
Terukur.
Nyaris tanpa suara keras.
Sedangkan Indra Waspada Yuda datang dengan rekam jejak yang sedikit berbeda.
Namanya sejak dulu identik dengan operasi lapangan.
Dengan pengungkapan kasus.
Dengan aroma penyidikan.
Banyak warga Sidrap masih mengingat julukan yang pernah melekat kepadanya.
“The Drugs Crime Hunter”.
Pemburu bandar narkoba.
Julukan yang lahir saat ia memimpin Sat Narkoba Polres Sidrap.
Namun yang lebih menarik justru bukan hanya soal narkoba.
Bukan dengan 100 kilogram sabu-sabu yang pernah diungkapnya di Parepare.
Melainkan, soal korupsi.
Saat menjabat Kapolres Parepare, Indra meninggalkan satu pekerjaan besar yang masih menjadi perhatian publik.
Yakni penanganan dugaan korupsi tunjangan perumahan anggota DPRD Parepare dengan nilai kerugian negara sekitar Rp4 miliar.
Kasus itu diduga menyeret sejumlah nama penting.
Termasuk tokoh-tokoh yang selama ini dianggap memiliki pengaruh politik cukup besar.
Tidak semua polisi nyaman menyentuh wilayah seperti itu.
Karena korupsi bukan perkara narkoba.
Bandar narkoba biasanya lari.
Koruptor sering kali justru tersenyum.
Koruptor punya jaringan.
Punya akses.
Punya banyak teman.
Karena itu, publik Sidrap tentu akan memperhatikan satu hal.
Apakah jejak yang ditinggalkan Indra di Parepare akan berlanjut di Sidrap?
Pertanyaan itu mulai muncul di warung kopi.
Di grup WhatsApp.
Di ruang-ruang diskusi kecil.
Sebab bukan rahasia lagi.
Belakangan ini isu dugaan korupsi di berbagai sektor mulai menjadi perbincangan masyarakat.
Maka pergantian Kapolres kali ini tidak hanya dibaca sebagai rotasi rutin.
Ada yang melihatnya sebagai pergantian gaya.
Pergantian pendekatan.
Bahkan mungkin pergantian prioritas.
Tentu semua masih terlalu dini untuk disimpulkan.
Indra baru saja menerima tongkat komando.
Ia bahkan baru melewati prosesi pedang pora dan laporan kesatuan.
Masih banyak pekerjaan yang harus dipelajari.
Masih banyak peta yang harus dibaca.
Masih banyak data yang harus dibuka.
Namun satu hal yang pasti.
Sidrap tidak menerima orang baru.
Sidrap menerima orang lama yang pulang.
Orang yang pernah menjadi Kasat Reskrim.
Pernah menjadi Kasat Narkoba.
Pernah mengejar bandar.
Pernah memburu pelaku kejahatan.
Kini ia kembali dengan pangkat lebih tinggi.
Dengan kewenangan lebih besar.
Dan tentu dengan ekspektasi yang jauh lebih berat.
Karena menjadi Kapolres Sidrap tidak cukup hanya menjaga keamanan.
Kadang masyarakat juga berharap lebih.
Berharap ada keberanian.
Berharap ada ketegasan.
Berharap ada kejutan.
AKBP Fantry Taherong telah menuntaskan bagiannya.
Kini panggung itu berpindah ke AKBP Indra Waspada Yuda.
Mereka memang mirip.
Sama-sama pernah menjadi kasat di Sidrap.
Sama-sama pernah kembali sebagai Kapolres.
Tetapi sejarah selalu ditulis dengan cara yang berbeda.
Dan Sidrap akan segera melihat perbedaan itu.(*)
Artikel ini termasuk dalam kategori Berita Sidrap Hari Ini .
