Sidrap, Katasulsel.com β Dana pendidikan bukan sekadar angka dalam anggaran.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah dana itu digunakan.
Apakah kemampuan membaca siswa meningkat? Apakah mereka semakin mampu berhitung dan bernalar? Atau program hanya selesai sebagai laporan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari pembahasan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Literasi dan Numerasi bagi sekolah penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja Tahun 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Kegiatan tersebut digelar Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidrap, berlangsung selama tiga hari, yakni, di UPT SDN 1 Lainungan, UPT SDN 2 WetteE dan SDN 2 Otting, 12, 13 hingga 14 September 2026
Sebanyak 18 sekolah penerima BOS Kinerja ikut ambil bagian.
Menariknya, peserta tidak dibiarkan bekerja dalam satu kelompok besar. Mereka dibagi menjadi tiga gugus kerja, yakni Gugus 1, Gugus 2 dan Gugus 3.
Pola ini membuat kegiatan tidak berhenti pada mendengarkan materi.
Guru dan kepala sekolah diberi ruang untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, membagikan praktik baik, sekaligus membicarakan persoalan yang mereka temui di sekolah masing-masing.
Karena persoalan pendidikan memang tidak selalu sama.
Sekolah A mungkin menghadapi persoalan literasi. Sekolah B bisa jadi lebih membutuhkan penguatan numerasi. Sekolah lain mungkin memiliki tantangan berbeda.
Maka, program pun idealnya tidak dibuat dengan pola “satu resep untuk semua”.
Di sinilah data Rapor Pendidikan ikut memainkan peran.
Data tidak dipandang sekadar angka yang tersimpan dalam sistem. Ia menjadi semacam dashboard untuk membaca kondisi satuan pendidikan, menentukan kebutuhan, lalu menyusun program yang lebih tepat sasaran.
Fasilitator kegiatan, Erwin Nurjiono, S.Pd., M.Pd., yang juga Kepala UPT SDN 3 Sereang, memandu peserta dalam pembahasan tersebut.
Erwin mengajak peserta mendalami strategi implementasi penguatan kompetensi dasar siswa. Termasuk bagaimana mengintegrasikan metode pembelajaran aktif serta memanfaatkan data Rapor Pendidikan dalam merancang program literasi dan numerasi.
Dengan kata lain, guru tidak hanya dituntut menyampaikan pelajaran.
Guru juga perlu membaca bagaimana siswanya belajar.
Mana yang belum dipahami. Mana yang perlu diperkuat. Dan pendekatan seperti apa yang paling memungkinkan siswa berkembang.
Konsep pembelajaran seperti ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan dunia pendidikan.
Anak-anak hari ini hidup dalam banjir informasi. Mereka bisa mendapatkan informasi hanya dalam beberapa detik melalui gawai.
Namun kemampuan mendapatkan informasi berbeda dengan kemampuan memahami informasi.
Begitu pula dengan numerasi.
Bisa menghitung belum tentu berarti mampu menggunakan angka untuk membaca persoalan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, literasi dan numerasi tidak lagi sekadar urusan membaca buku atau mengerjakan soal matematika.
Keduanya berkaitan dengan kemampuan memahami, berpikir, bernalar, mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
Dari sinilah pendampingan BOS Kinerja diarahkan.
BBPMP Sulsel bersama Disdikbud Sidrap mendorong agar dukungan anggaran tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi program yang memberi dampak terhadap proses belajar.
Bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika dokumentasi diambil.
Melalui sistem gugus, para pendidik dan kepala sekolah juga didorong menyusun rencana aksi yang dapat diterapkan langsung di sekolah masing-masing.
Ada proses membaca data.
Ada diskusi.
Ada berbagi praktik baik.
Lalu ada aksi.
Siklus itulah yang diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu hasil belajar peserta didik di Sidrap.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah program pendidikan bukan hanya terlihat dari berapa banyak kegiatan yang dilakukan.
Ukuran yang lebih penting ada di ruang kelas.
Ketika anak lebih berani membaca.
Ketika siswa mulai mampu memahami informasi.
Ketika angka tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan.
Dan ketika guru memiliki strategi yang lebih tepat untuk membantu siswanya berkembang.
Di titik itulah BOS Kinerja tidak berhenti sebagai anggaran.
Ia berubah menjadi investasi untuk mutu pendidikan. (edy)
