Makassar, Katasulsel.com – Di tengah seriusnya agenda Monitoring dan Evaluasi Percepatan Penuntasan Tuberkulosis (TBC) Sulawesi Selatan 2026, satu nama yang paling mencuri perhatian dalam forum virtual itu adalah Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, S.I.P., M.M.
Saat banyak daerah masih fokus pada penanganan kuratif, Syaharuddin tampil dengan narasi berbeda: melawan TBC dari akar, dari desa, dari keluarga, dan dari kesadaran masyarakat.
Forum bertema “Tangani Bersama Tuberkulosis di Sulawesi Selatan” yang digelar Pemprov Sulsel, Kamis (21/5/2026) itu, menghadirkan Wakil Menteri Kesehatan D. Nenjamin Paulus Octavianus, Sp.P (K), Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, serta Bupati Sidrap sebagai narasumber utama. Hadir pula para Bupati/Wali Kota, Kepala Dinas Kesehatan, dan Puskesmas se-Sulawesi Selatan.
Namun, dari seluruh pembahasan teknis tentang surveillance system, case finding, hingga treatment success rate, paparan Syaharuddin justru tampil paling membumi—membawa pesan sederhana tapi kuat: TBC bukan hanya urusan rumah sakit, tapi urusan semua orang.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Bupati Sidrap Syaharuddin yang dikenal gaya lantang saat berbicara itu menegaskan bahwa penyakit menular seperti TBC tidak bisa dihadapi dengan pola lama. Ia mendorong strategi yang bergerak cepat, agresif, dan langsung menyentuh akar persoalan.
Lewat pendekatan community based intervention, Syaharuddin mengubah desa bukan sekadar wilayah administratif, tetapi benteng pertama perang melawan TBC.
Langkah paling menyita perhatian ialah pencanangan 14 Desa Siaga TBC pada 2025 di Kabupaten Sidrap. Program itu bukan sekadar simbolik. Desa didorong aktif menjadi pusat edukasi, deteksi dini, pengawasan pasien, hingga pendampingan pengobatan sampai tuntas.
Yang membuat publik menoleh, Syaharuddin tidak berhenti pada program kecil. Ia langsung memasang target besar: 100 persen desa di Sidrap menjadi Desa Siaga TBC pada 2026.
Di forum itu, gaya bicara Syaharuddin dinilai tegas dan visioner. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh hanya menunggu angka kasus naik.
“Kalau TBC bergerak cepat, pemerintah harus bergerak lebih cepat.”
Kalimat itu sontak menjadi penekanan kuat dalam forum, menggambarkan pendekatan kepemimpinan yang tidak reaktif, tetapi ofensif.
Di tengah isu kesehatan yang sering dianggap rumit dan teknis, Syaharuddin justru membawa narasi yang mudah dipahami: mencegah lebih murah daripada mengobati, dan desa adalah garda terdepan.
Bagi banyak peserta, langkah Sidrap dipandang sebagai model local leadership—bahwa perang melawan TBC bisa dimulai dari kebijakan sederhana, tetapi berdampak luas.
Kehadiran Syaharuddin Alrif di forum provinsi ini bukan hanya sebagai pembicara, tetapi menegaskan Sidrap sebagai salah satu daerah yang ingin bergerak lebih dulu dalam agenda kesehatan publik.
Di saat banyak daerah berbicara tentang program, Sidrap mulai berbicara tentang gerakan.
Dan dari forum virtual pagi itu, satu pesan terasa paling kuat: Syaharuddin Alrif tidak sedang menunggu TBC selesai sendiri—ia memilih melawannya dari desa, dari rakyat, dan dari sekaran. (edybasri)
