Kalau sawah kekurangan air, petani tidak bisa menyuruh langit segera hujan.

Oleh: Edy Basri

Langit punya jadwal sendiri.

Petani punya jadwal tanam yang tidak bisa menunggu terlalu lama.

Di antara dua kepentingan itulah listrik menemukan pekerjaan baru di Sidrap, Sulawesi Selatan. Bukan untuk menyalakan televisi di rumah petani. Bukan pula sekadar membuat lampu menyala pada malam hari. Kali ini, listrik dipakai untuk menggerakkan pompa air.

Tujuannya sederhana: air sampai ke sawah.

Tetapi dalam pertanian, sesuatu yang sederhana bisa menentukan hasil yang tidak sederhana.

Di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, hasil panen padi pada Agustus 2026 tercatat sekitar 10,4 ton per hektare. Pada musim tanam sebelumnya, produktivitasnya masih berkisar tujuh ton per hektare.

Dari tujuh menjadi 10,4 ton.

Ada tambahan sekitar 3,4 ton dari setiap hektare. Itu angka yang pantas diperhatikan, terutama di daerah yang kehidupan ekonominya begitu dekat dengan sawah.

Lalu, apa hubungannya dengan PLN?

Di sinilah ceritanya menarik.

Air tidak selalu datang dari langit

Petani di Takkalasi mengelola sekitar 395 hektare lahan. Ada 13 kelompok tani yang bekerja di wilayah tersebut.

Dulu, mereka mengandalkan pasokan air dari Bendung Takkalasi. Masalah muncul ketika kemarau panjang membuat sumber air itu mengering.

Sawah tetap membutuhkan air. Tanaman tidak bisa diajak berunding.

Sejak 2025, tersedia 39 titik sumur bor di wilayah tersebut. Air dari sumur itu dimanfaatkan untuk membantu pengairan, sementara listrik digunakan untuk mengoperasikan pompa.

Program ini dikenal sebagai electrifying agriculture atau EA, program PLN yang mendorong pemanfaatan listrik untuk kegiatan pertanian.

Coba lihat perubahan cara berpikirnya.

Dulu, orang mungkin menganggap listrik urusannya rumah dan kantor. Sekarang, listrik juga bisa menjadi bagian dari urusan produksi pangan.

Kabel tidak menumbuhkan padi. Pompa juga tidak bisa menggantikan keahlian petani. Tetapi tanpa tenaga untuk menggerakkan pompa, air dari sumur tidak akan begitu saja berpindah ke petakan sawah.

Di titik itulah PLN ikut masuk ke rantai produksi pertanian.

Bukan dengan memegang cangkul. Melainkan dengan menyediakan energi agar peralatan bisa bekerja.

PLN ikut masuk ke urusan perut

General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, menjelaskan bahwa pemanfaatan listrik di sektor agrikultur tidak hanya bertujuan menambah pelanggan dan daya tersambung.

PLN ingin listrik memberi nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha.

Pemanfaatannya bisa untuk pompa irigasi, sistem pengairan, pencahayaan, ventilasi, sampai peralatan pendukung peternakan.

Artinya, listrik tidak harus berhenti di meteran rumah. Ia bisa masuk ke proses produksi, membantu mesin bekerja, dan mendukung kegiatan ekonomi.

Bagi petani yang selama ini mengandalkan pompa berbahan bakar minyak, listrik juga menjadi pilihan energi lain. Tentu, pilihan itu harus dihitung dengan cermat. Biaya listrik, kapasitas pompa, perawatan, dan kebutuhan air perlu dibandingkan agar petani benar-benar memperoleh manfaat ekonomi.

Sebab, petani tidak cukup hanya diberi teknologi. Teknologi itu harus masuk akal bagi kantong mereka.

Bukan listrik saja yang membuat panen naik

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Sidrap, Ibrahim, menyebut peningkatan produktivitas di Takkalasi berjalan bersama sejumlah upaya lain.

Ada optimalisasi lahan. Ada bantuan benih. Ada penyediaan sumber air. Ada pula pemanfaatan listrik untuk pengairan.

Jadi, tidak tepat jika kenaikan dari tujuh menjadi 10,4 ton per hektare dianggap hasil listrik semata.

Pertanian tidak bekerja sesederhana menekan sakelar lalu panen meningkat. Banyak faktor ikut menentukan: kualitas benih, pengelolaan lahan, pemupukan, cuaca, ketersediaan air, dan kemampuan petani.

Namun, satu hal jelas: air merupakan kebutuhan dasar tanaman. Ketika pengairan lebih terjaga, petani mempunyai dukungan tambahan untuk mengelola sawahnya.

Dan di situlah manfaat program PLN layak dilihat. Bukan hanya dari berapa sambungan listrik terpasang, tetapi juga dari bagaimana listrik digunakan untuk mendukung kegiatan produktif.

Ujian sesungguhnya datang saat kemarau

Sidrap punya kepentingan besar menjaga produksi padi. Karena itu, cerita Takkalasi tidak cukup berhenti pada angka panen Agustus.

Pertanyaan berikutnya justru lebih penting.

Bisakah produktivitas itu dipertahankan pada musim tanam berikutnya? Apakah 39 sumur bor mampu menopang kebutuhan air ketika kemarau lebih panjang? Berapa besar penghematan biaya yang benar-benar dirasakan petani setelah menggunakan pompa listrik?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah program ini sekadar memberi hasil menjanjikan pada satu musim, atau bisa menjadi pola yang berkelanjutan.

PLN, pemerintah daerah, dan kelompok tani perlu berjalan bersama. Jaringan listrik harus memadai. Sumber air harus dikelola dengan baik. Pompa perlu dirawat. Biaya operasional juga harus masuk hitungan.

Kalau semua itu terjaga, manfaatnya bisa melampaui satu desa.

Sebab, ketahanan pangan bukan hanya soal berapa luas sawah yang ditanami. Ketahanan pangan juga soal bagaimana sawah itu tetap produktif ketika hujan tidak datang sesuai harapan.

Di Takkalasi, PLN tidak menanam padi. Tidak pula menentukan berapa ton gabah yang akan dipanen.

Tetapi listrik yang digunakan untuk menggerakkan pompa air memberi petani satu alat tambahan untuk menghadapi kemarau.

Kadang, kontribusi terhadap pangan memang tidak terlihat seperti padi yang menguning di sawah. Kadang bentuknya hanya sebuah pompa yang terus bekerja, mengalirkan air ketika tanaman membutuhkannya.

Lampu menerangi rumah. Listrik yang sama, ketika dimanfaatkan di sawah, ikut membantu menjaga harapan panen. (*)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru