Sidrap, katasulsel.com — Ada pemandangan yang mulai sering terlihat di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) beberapa tahun terakhir.
Di daerah yang dipimpin Bupati Syaharuddin Alrif itu, mobil travel haji semakin ramai keluar masuk kampung.
Rumah-rumah warga mulai memasang spanduk doa keberangkatan.
Dan yang paling menarik, jamaah berusia muda mulai bermunculan.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Terbaru, dua remaja asal Tanete bernama Safira Raodatul Jannah dan Muhammad Arifin. Usianya masih sangat belia, 14 tahun dan 16 tahun.
Keduanya menjadi calon jamaah haji khusus termuda bersama PT Annur Maarif tahun 2026.
Kisah mereka bukan sekadar cerita tentang anak muda yang berangkat ke Tanah Suci.
Ini juga cermin perubahan ekonomi masyarakat Sidrap.
Daerah yang dulu identik dengan sawah, peternakan, dan kehidupan desa sederhana itu kini perlahan menunjukkan wajah baru: masyarakatnya makin berani berinvestasi pada ibadah.
βTujuh tahun lalu kami didaftarkan orang tua,β kata Arifin.
Artinya, saat itu keluarga mereka sudah mulai memikirkan masa depan spiritual anak-anaknya jauh hari sebelumnya.
Dan itu bukan perkara kecil.
Sebab haji khusus membutuhkan biaya besar dan komitmen finansial jangka panjang.
Di sinilah banyak orang mulai melihat satu perubahan penting di Sidrap:
Ekonomi masyarakatnya bergerak naik.
Pendapatan petani membaik. Peternak mulai berkembang. Pengusaha lokal tumbuh. Perputaran usaha makin hidup.
Dan ketika ekonomi membaik, orientasi masyarakat pun ikut berubah.
Bukan lagi sekadar membangun rumah atau membeli kendaraan.
Tetapi mulai mengejar ibadah yang dulu terasa sangat jauh.
βSekarang banyak keluarga di Sidrap mulai menyiapkan tabungan haji sejak anak-anak mereka masih kecil,β ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Fenomena itu ikut didorong oleh hadirnya biro perjalanan yang agresif membangun kepercayaan jamaah daerah, salah satunya PT Annur Maarif.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Annur Maarif semakin kuat di Sulawesi Selatan, khususnya di Sidrap.
Bukan hanya karena memberangkatkan jamaah.
Tetapi karena mereka berhasil membangun kedekatan emosional dengan masyarakat.
Safira mengaku selama proses persiapan, dirinya tidak merasa diperlakukan sebagai βanak kecilβ.
βPendampingannya bagus sekali. Kami merasa nyaman,β katanya.
Hal serupa disampaikan Arifin.
Menurutnya, pelayanan yang diberikan sejak manasik hingga keberangkatan membuat jamaah merasa seperti keluarga besar.
Di tengah persaingan biro perjalanan haji khusus yang semakin ketat, pendekatan seperti itulah yang membuat PT Annur Maarif cepat berkembang.
Mereka tidak hanya menjual perjalanan.
Mereka menjual rasa tenang.
Tahun ini saja, sebanyak 125 jamaah haji khusus Annur Maarif akhirnya berangkat setelah menunggu lima hingga tujuh tahun.
Jumlah yang menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berhaji lewat jalur khusus.
Dan menariknya, sebagian besar jamaah berasal dari daerah-daerah yang dulu dianggap βpinggiranβ.
Kini daerah seperti Sidrap justru mulai tampil sebagai salah satu kantong jamaah potensial di Sulawesi Selatan.
βIni tanda daya beli masyarakat meningkat,β kata seorang pengamat ekonomi lokal.
Menurutnya, haji khusus sering menjadi indikator baru pertumbuhan kelas menengah di daerah.
Karena biaya besar yang dikeluarkan biasanya lahir dari kestabilan ekonomi keluarga.
Di balik itu semua, kisah Safira dan Arifin tetap menjadi bagian paling menyentuh.
Dua remaja yang berangkat lebih dulu ke Tanah Suci sebelum orang tua mereka.
Dua anak muda yang mungkin sedang mengubah cara pandang banyak keluarga di Sidrap:
Bahwa mimpi berhaji tidak harus menunggu tua.
Dan bahwa dari daerah lumbung beras seperti Sidrap, kini lahir generasi baru yang bukan hanya kuat bekerja β tetapi juga kuat menabung demi memenuhi panggilan Allah SWT. (*)
Update terbaru: 16 Mei 2026 14:29 WIB
