Sidrap, Katasulsel.com β€” Pesta panen “Mappadendang” digelar masyarakat Desa Padangloang Alau, Kecamatan Dua Pitue, Rabu (23/9/2026).

Tradisi ini menjadi ungkapan syukur atas hasil pertanian sekaligus momentum menjaga kebersamaan dan kearifan lokal.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Sidenreng Rappang Syaharuddin Alrif, Wakil Bupati Nurkanaah, Sekretaris Daerah Andi Rahmat Saleh, serta jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Sidrap.

Mappadendang merupakan tradisi masyarakat yang digelar setelah melalui rangkaian proses tanam hingga panen.

Masyarakat berkumpul dan mengikuti tradisi secara bersama-sama sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh.

Suasana kebersamaan dan kegembiraan mewarnai kegiatan tersebut. Momentum ini sekaligus menjadi ajang mempererat silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif mengapresiasi masyarakat Desa Padangloang Alau yang terus menjaga tradisi mappadendang sebagai bagian dari kearifan lokal.

β€œMappadendang bukan hanya pesta setelah panen, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal yang harus terus kita jaga,” ujar Syaharuddin.

Menurutnya, tradisi seperti mappadendang memiliki nilai sosial yang penting karena mampu memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.

Syaharuddin juga menyampaikan bahwa sektor pertanian memiliki peran penting bagi perekonomian masyarakat Sidrap.

Karena itu, pemerintah daerah akan terus mendorong sektor pertanian serta memberikan perhatian terhadap kebutuhan para petani.

β€œPemerintah daerah tentu berkomitmen untuk terus mendukung masyarakat petani. Hasil panen yang baik harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

Kehadiran jajaran Pemkab Sidrap dalam pesta panen tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus apresiasi kepada masyarakat yang berkontribusi dalam sektor pertanian.

Pesta panen mappadendang di Desa Padangloang Alau berlangsung dalam suasana kekeluargaan.

Pemerintah dan masyarakat bersama-sama merayakan hasil bumi dengan semangat syukur serta harapan akan musim tanam dan panen yang lebih baik ke depan. (*)