Sidrap, katasulsel.com — Bukan hanya hati yang dibawa lari. Dalam kasus ini, emas para perempuan juga ikut menghilang.

Selama lebih dari setahun, seorang pria yang mengaku bernama Reza diduga menjalankan skenario yang terdengar seperti cerita sinetron, tetapi berujung laporan polisi di berbagai daerah.

Modusnya sederhana, namun mematikan.

Berkenalan lewat Facebook. Mengaku anggota polisi atau pelaut. Intens menelepon dan mengirim pesan WhatsApp. Setelah hubungan terasa dekat, ia mulai berbicara soal masa depan.

Soal pernikahan.

Soal lamaran.

Soal keluarga yang akan datang membawa emas.

Lalu di titik itulah para korban diduga mulai terjebak.

“Calon pengantin” itu meminta korban meminjamkan perhiasan emasnya dengan alasan akan dijadikan contoh bagi keluarga yang hendak menyiapkan emas lamaran.

Alasannya terdengar meyakinkan.

Bahkan dibumbui cerita tentang nazar orang tua yang ingin memberikan satu set perhiasan kepada perempuan yang akan dilamar.

Ketika emas sudah berpindah tangan, pria itu menghilang.

Nomor telepon tidak aktif.

Akun Facebook lenyap.

Yang tersisa hanya penyesalan.

Jejak Kasus Berserakan di Sidrap

Yang membuat perkara ini menarik, kasusnya ternyata tidak berdiri sendiri.

Polres Sidrap menemukan laporan-laporan serupa yang tersebar sejak Mei 2025 hingga Oktober 2026.

Korbannya bukan satu atau dua orang.

Sedikitnya 11 perempuan telah melapor, dengan nilai kerugian bervariasi antara Rp16 juta hingga Rp70 juta.

Total kerugian yang tercatat mencapai sekitar Rp455 juta.

Itu pun belum termasuk korban lain yang disebut belum sempat membuat laporan resmi.

Mayoritas korban berasal dari Kabupaten Sidrap, namun penyidik juga menemukan jejak korban di Pinrang, Wajo, hingga Bone.

Benang Kusut yang Mulai Terurai

Kapolres Sidrap AKBP Indra Waspada Yuda melalui Kasat Reskrim AKP Welfrick Ambarita, dalam konferensi pers, Rabu (7/10/2026), mengungkapkan bahwa pengungkapan kasus ini bermula dari laporan seorang perempuan di Kecamatan Panca Rijang yang merasa ditipu setelah menyerahkan emas senilai sekitar Rp60 juta.

Dari laporan itu, penyidik mulai mengikuti jejak seorang perempuan yang ternyata berperan sebagai kurir.

Perempuan tersebut adalah Ratnawati Nur.

Ia diduga bertugas mengambil emas dari para korban, menjualnya, lalu mengirimkan hasil penjualan kepada pria yang dikenalnya sebagai Reza.

Kasus Ratnawati bahkan telah lebih dulu bergulir hingga pengadilan dan telah memperoleh putusan hukum.

Namun polisi belum berhenti di situ.

Penyidik Satreskrim Polres Sidrap terus memburu sosok yang selama ini hanya dikenal korban lewat layar telepon.

Berakhir di Meja Biliar Balikpapan

Pencarian itu akhirnya membawa tim Resmob Sidrap keluar Sulawesi.

Informasi penyelidikan mengarah ke Balikpapan, Kalimantan Timur.

Tim yang dipimpin IPDA Zakaria kemudian berkoordinasi dengan jajaran Ditreskrimum Polda Kaltim.

Pada 4 Oktober 2026 sore, operasi itu berakhir di sebuah tempat yang tidak pernah dibayangkan para korban.

Bersambung….

Bukan di pelabuhan.

Bukan di markas polisi.

Bukan pula di kapal.

Melainkan di sebuah rumah biliar di kawasan Klandasan Ilir, Balikpapan.

Di lokasi itulah polisi mengamankan pria yang selama ini diduga menggunakan berbagai identitas dan nama di media sosial.

Ia diketahui bernama Abd Rahman alias Reza, warga asal Sidrap yang selama ini menetap di Balikpapan.

Emas Habis, Uang Dipakai Berfoya-foya

Dari hasil pemeriksaan, penyidik menduga uang hasil kejahatan tidak digunakan untuk usaha atau investasi.

Sebaliknya, uang tersebut disebut habis untuk gaya hidup.

Mulai dari tempat hiburan malam di Balikpapan dan Samarinda hingga perjalanan ke Bali.

Sebagian lainnya dikirim kepada keluarganya di kampung halaman.

Polisi juga menyita sejumlah telepon genggam, uang tunai, dokumen transaksi, hingga barang bukti lain yang diduga berkaitan dengan aktivitas penipuan tersebut.

Ketika Cinta Menjadi Senjata

Kasus ini memperlihatkan perubahan wajah penipuan digital.

Jika dulu pelaku menjual mimpi investasi, kini yang dijual adalah harapan pernikahan.

Pelaku tidak meminta transfer uang di awal.

Ia lebih dulu membangun kedekatan emosional.

Membuat korban merasa dihargai, dicintai, dan dipilih.

Setelah kepercayaan terbentuk, emas pun berpindah tangan.

Inilah yang dalam dunia kejahatan siber dikenal sebagai love scamming.

Korban tidak ditipu karena serakah.

Mereka ditipu karena percaya.

Dan bagi banyak korban, kehilangan emas mungkin masih bisa dihitung.

Tetapi kehilangan kepercayaan kepada orang lain sering kali jauh lebih mahal.

Saat ini tersangka telah ditahan di Polres Sidrap. Penyidik masih merampungkan berkas perkara sebelum dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Polisi juga membuka kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor.

Sebab dari pengakuan tersangka, jumlah perempuan yang pernah menjadi target diduga lebih banyak daripada yang tercatat dalam berkas perkara.

**Ditulis oleh: Edy Basri **
(Pimpinan Redaksi Katasulsel.com)

K
Katasulsel.com
Ikuti kami di media sosial
Berita terbaru Katasulsel juga hadir di Instagram dan TikTok.
Follow Katasulsel untuk update berita terbaru