Sidrap, katasulsel.com β€” Upaya menekan angka stunting di daerah kini tidak lagi hanya berfokus pada anak setelah lahir. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), mengubah arah kebijakan dengan pendekatan menyeluruh berbasis siklus hidup, yang dimulai sejak calon pengantin, masa kehamilan, hingga bayi baru lahir dan tumbuh kembang anak.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidenreng Rappang, Dr. Dr. Ishak Kenre, menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa lagi dimulai saat bayi sudah lahir, melainkan harus diperkuat sejak tahap paling awal kehidupan keluarga terbentuk.

β€œKalau kita ingin menekan stunting secara serius, intervensinya tidak boleh dimulai saat bayi lahir. Harus dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga bayi baru lahir dan tumbuh kembangnya,” ujarnya di kantornya, Senin (25/5/2026).

Dalam kerangka kebijakan tersebut, Dinkes Sidrap menggerakkan 12 langkah pendekatan siklus hidup yang dirancang sebagai satu rantai layanan kesehatan yang saling terhubung, mulai dari pra-nikah hingga pemantauan pertumbuhan anak.

Camat Paling Merakyat Versi Pembaca

Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.

Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.

1 perangkat/IP = 1 suara

Memuat 3 besar...

Fokus utama dimulai dari calon pengantin, melalui penguatan status kesehatan, skrining anemia, serta edukasi gizi sebelum memasuki jenjang pernikahan dan kehamilan. Tahap ini dinilai krusial untuk memutus risiko stunting sejak hulu.

Memasuki masa kehamilan, layanan diperketat melalui pemeriksaan antenatal care (ANC) terstandar, pemantauan rutin, serta pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil. Program ini turut terintegrasi dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas sebagai pintu masuk deteksi dini risiko kesehatan, termasuk Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.

Setelah bayi lahir, intervensi dilanjutkan dengan penguatan praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif 0–6 bulan, hingga pemberian MP-ASI yang tepat pada usia 6–23 bulan sebagai fase emas pertumbuhan.

Seluruh rangkaian tersebut kemudian diperkuat dengan pemantauan pertumbuhan anak usia 0–59 bulan secara berkelanjutan, guna memastikan tidak ada kasus gizi kurang maupun gangguan tumbuh kembang yang terlambat ditangani.

β€œKalau satu mata rantai putus, maka risiko stunting tetap muncul. Karena itu semua harus berjalan bersamaan, dari calon pengantin sampai bayi dan anak tumbuh,” tegas Ishak.

Ia menekankan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada integrasi layanan di seluruh puskesmas serta peran aktif keluarga, terutama dalam menjaga pola makan, sanitasi, dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Selain intervensi medis, edukasi kepada masyarakatβ€”mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga keluarga dengan bayiβ€”juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Pemerintah daerah berharap, pendekatan siklus hidup ini tidak hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga melahirkan generasi yang lebih sehat, kuat, dan siap bersaing di masa depan.

Dengan model intervensi yang lebih terstruktur dari pra-nikah hingga tumbuh kembang anak, Dinkes Sidrap optimistis upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata dalam beberapa tahun ke depan. (*)

Pemimpin Redaksi
Edy Basri adalah Pemimpin Redaksi Katasulsel.com. Lulus Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers sejak 2018 (Wartawan Utama). Sebelumnya sebagai jurnalis di Koran Harian Fajar.