Sidrap, katasulsel.com — Pagi di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap, Senin, 25 Mei 2026, tidak berjalan seperti rutinitas biasa.
Di ruang kerjanya, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Dr. Ishak Kenre, memilih membuka hari dengan Dialog Kinerja Bidang yang mempertemukan seluruh penanggung jawab program, kabid, hingga perwakilan 14 puskesmas.
Bukan sekadar evaluasi angka, pertemuan itu mengarah pada satu kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan layanan kesehatan dasar benar-benar bekerja sebagai “alat penyelamat dini”, bukan hanya pencatat data.
Ada lima isu besar yang mengemuka: Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), stunting, Tuberkulosis (TB), dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Namun dalam gaya penyampaiannya yang lugas, Ishak justru mengunci perhatian pada satu program yang terlihat sederhana, tapi punya dampak besar jika dijalankan setengah hati.
Cek Kesehatan Gratis (CKG), menurutnya, tidak boleh berhenti pada pemeriksaan dasar seperti tekanan darah, gula darah, atau keluhan umum lainnya. Di balik layanan itu, ada peluang besar yang sering terlewat: deteksi dini penyakit menular dan kronis.
“CKG itu bukan sekadar cek rutin. Ini pintu masuk deteksi dini,” ujarnya di sela wawancara.
Dari semua penyakit yang dibahas, Tuberkulosis (TB) menjadi perhatian paling serius. Ishak menekankan bahwa setiap warga yang datang ke layanan CKG wajib melewati skrining TB secara sistematis di seluruh puskesmas.
Petugas diminta tidak hanya mencatat hasil pemeriksaan fisik, tetapi aktif menggali gejala klinis—mulai dari batuk berkepanjangan lebih dari dua minggu, demam yang tidak jelas sebabnya, keringat malam, hingga penurunan berat badan yang tidak disengaja.
Jika gejala mengarah ke suspek, maka pasien harus langsung masuk jalur pemeriksaan lanjutan seperti tes dahak (sputum) dan rontgen dada.
Di titik ini, Ishak menekankan satu hal yang terdengar sederhana tapi krusial dalam dunia kesehatan masyarakat: case finding tidak boleh menunggu, harus aktif.
“Satu kasus TB yang tidak ketemu bisa menular ke 10 sampai 15 orang dalam setahun. Jadi jangan sampai kita lengah di pintu depan,” katanya.

Nada peringatan itu bukan tanpa alasan. Dalam sistem layanan primer, TB dikenal sebagai penyakit yang sering “hilang di awal” karena gejalanya mirip penyakit biasa. Karena itu, ia mendorong agar skrining menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap layanan CKG, bukan berdiri sendiri sebagai program terpisah.
Di luar isu TB, Ishak juga menyinggung disiplin layanan puskesmas. Ia menekankan pentingnya budaya kerja bersih, kepatuhan terhadap SOP, dan evaluasi capaian program yang tidak boleh hanya berhenti di laporan administratif. Menurutnya, mutu layanan kesehatan ditentukan oleh konsistensi kecil yang dilakukan setiap hari di lapangan.
“Kalau kita sibuk di angka tapi lalai di gejala, kita bisa kehilangan momentum menyelamatkan orang,” ucapnya.
Ia juga kembali mengingatkan target besar eliminasi TB tahun 2030 yang hanya bisa dicapai jika seluruh fasilitas kesehatan bergerak dalam satu ritme yang sama, dari pusat hingga puskesmas.
Di akhir dialog, arah kebijakan itu terasa mengerucut: CKG bukan lagi sekadar program layanan gratis, tetapi menjadi “filter awal” sistem kesehatan daerah.
Dan di ruang kerja sederhana di Sidrap pagi itu, pesan yang tertinggal cukup tegas: dalam kesehatan masyarakat, yang paling berbahaya bukan penyakit yang berat, tetapi penyakit yang tidak sempat ditemukan sejak awal. (*)
