Sidrap, Katasulsel.com — Di banyak daerah, stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Namun di Kabupaten Sidenreng Rappang, pendekatan berbeda mulai dibangun. Bukan sekadar memperkuat layanan untuk bayi dan balita, tetapi justru “menggeser garis start” jauh lebih awal: dari calon pengantin.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidenreng Rappang Dinas Kesehatan Kabupaten Sidenreng Rappang, Dr. Dr. Ishak Kenre, menyebut inilah kunci mengapa penanganan stunting di Sidrap mulai menunjukkan arah yang lebih terstruktur.
“Stunting tidak bisa ditangani hanya saat anak sudah lahir. Harus dimulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, sampai bayi baru lahir dan tumbuh kembangnya,” ujarnya.
Menurut Ishak, strategi 12 langkah siklus hidup yang dijalankan Dinkes Sidrap bukan sekadar program teknis, melainkan sebuah “rantai pencegahan” yang tidak boleh terputus di satu titik mana pun. Justru di sanalah letak kekuatan pendekatannya.
Camat Paling Merakyat Versi Pembaca
Polling ini partisipatif, bukan survei ilmiah. Indikator : Sisi kedekatan dengan warga, respons terhadap masalah, hingga dukungan pada aktivitas sosial dan ekonomi lokal.
Polling ini partisipasi pembaca, bukan survei ilmiah.
1 perangkat/IP = 1 suara
Yang membuat Sidrap berbeda, kata dia, adalah keberanian memulai intervensi sejak fase calon pengantin. Pada tahap ini dilakukan skrining kesehatan, deteksi anemia, penguatan status gizi, serta edukasi kesehatan reproduksi sebelum pasangan memasuki masa kehamilan.
“Kalau fondasi awalnya sudah kuat, maka risiko di tahap berikutnya bisa ditekan jauh lebih awal,” jelasnya.
Setelah fase pranikah, sistem berlanjut ke masa kehamilan dengan penguatan layanan antenatal care (ANC) terstandar, pemantauan rutin, serta pemenuhan gizi ibu hamil. Layanan ini juga diperkuat melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas sebagai pintu masuk deteksi dini risiko seperti Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia.
Namun yang sering luput, menurut Ishak, adalah fase setelah bayi lahir. Di sinilah Sidrap memperketat intervensi melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI eksklusif 0–6 bulan, hingga MP-ASI yang tepat pada usia 6–23 bulan.
Rangkaian itu kemudian dilanjutkan dengan pemantauan tumbuh kembang anak usia 0–59 bulan secara berkelanjutan, agar setiap tanda gangguan gizi dapat segera ditangani tanpa menunggu kondisi memburuk.
“Kalau satu mata rantai putus, risiko tetap muncul. Karena itu semua harus berjalan dari awal sampai akhir,” tegasnya.
Ishak menyebut, keberhasilan pendekatan ini bukan hanya soal layanan kesehatan, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat. Edukasi kepada remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga keluarga dengan balita menjadi bagian penting dari strategi tersebut.
Di luar fasilitas kesehatan, faktor perilaku hidup bersih, sanitasi, dan pola makan keluarga juga ikut menentukan. Karena itu, Dinkes Sidrap mendorong keterlibatan lintas sektor hingga tingkat rumah tangga.
Dengan pendekatan yang dimulai dari calon pengantin hingga bayi dan balita, Sidrap kini menempatkan pencegahan stunting bukan sebagai program akhir, melainkan sebagai proses panjang yang dimulai bahkan sebelum kehidupan baru benar-benar dimulai.
Dan di titik itulah, menurut Ishak, “stunting kehilangan ruangnya untuk tumbuh.”
