SIDRAP, Katasulsel.com — Jika dahulu banyak daerah datang ke Sidrap untuk belajar pertanian, kini giliran sektor peternakan yang menjadi magnet. Kabupaten Barru menjadi salah satu daerah yang mulai melirik kesuksesan Bumi Nene Mallomo dalam membangun industri ayam petelur yang berkembang pesat.

Sejumlah peternak asal Barru datang langsung ke Sidrap untuk melihat dari dekat bagaimana daerah ini mampu menjelma menjadi salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia Timur.

Kunjungan itu bukan sekadar studi banding biasa. Para peternak menyusuri kandang demi kandang, berdiskusi dengan pelaku usaha, hingga mengamati langsung sistem pemeliharaan yang membuat produksi telur Sidrap terus meningkat dari tahun ke tahun.

Fenomena ini menunjukkan satu hal. Sidrap kini tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil telur, tetapi juga telah menjadi ruang belajar bagi daerah lain yang ingin mengembangkan sektor peternakan modern.

Keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang. Dukungan pemerintah daerah, semangat peternak, kemitraan usaha, serta penerapan teknologi menjadikan industri peternakan Sidrap tumbuh menjadi salah satu penggerak utama ekonomi masyarakat.

Saat ini populasi ayam petelur di Sidrap telah mencapai jutaan ekor. Dari kandang-kandang yang tersebar di berbagai kecamatan, jutaan butir telur diproduksi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pasar Sulawesi Selatan dan berbagai daerah di kawasan timur Indonesia.

Telur produksi Sidrap kini tidak hanya beredar di Sulawesi. Distribusinya telah menjangkau Kalimantan, Maluku hingga Papua. Jaringan pemasaran yang luas itu menjadi salah satu alasan mengapa banyak daerah mulai menjadikan Sidrap sebagai referensi pengembangan peternakan unggas.

Di bawah kepemimpinan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, sektor peternakan memang menjadi salah satu fokus pembangunan daerah. Berbagai program penguatan usaha peternakan terus didorong, termasuk peningkatan populasi ayam petelur yang ditargetkan mencapai 10 juta ekor.

Bagi para peternak Barru, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari resep sukses yang telah membawa Sidrap menjadi salah satu kekuatan utama peternakan unggas nasional.

Yang mereka temukan bukan hanya kandang modern atau produksi yang melimpah. Mereka juga melihat bagaimana kolaborasi antara pemerintah, peternak, dan pasar mampu menciptakan ekosistem usaha yang tumbuh berkelanjutan.

Kini, Sidrap bukan sekadar lumbung telur. Daerah ini perlahan menjelma menjadi “kampus lapangan” peternakan unggas, tempat para peternak dari berbagai wilayah datang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan membawa pulang inspirasi.

Dari Sidrap, bukan hanya telur yang diproduksi setiap hari. Tetapi juga pengetahuan, inovasi, dan optimisme bahwa peternakan dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi masa depan. (*)

Mengawal akurasi dan kedalaman berita