JAKARTA, Katasulsel.com β Sebuah pernyataan dalam rapat kabinet kini kembali menjadi sorotan. Saat melaporkan perkembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada Presiden Prabowo Subianto pada Desember 2025, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebut bahwa penerima manfaat mendapatkan satu ekor ikan lele utuh dalam menu MBG. Pernyataan itu bahkan membuat Presiden Prabowo terkesan dan menyebut menu tersebut lebih baik dibanding saat dirinya masih menjadi tentara.
Namun belakangan, pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan di ruang publik. Pasalnya, di sejumlah daerah, banyak orang tua dan siswa mengaku belum pernah melihat menu MBG berisi satu ekor lele utuh seperti yang digambarkan dalam laporan resmi. Perbedaan antara laporan pusat dan realitas di lapangan inilah yang memicu polemik.
Dalam laporan kepada Presiden, Dadan menjelaskan bahwa setiap dapur MBG membutuhkan ribuan ekor lele setiap hari untuk memenuhi kebutuhan penerima manfaat. Penjelasan itu menjadi bagian dari gambaran besarnya kebutuhan bahan baku program yang saat itu telah menjangkau puluhan juta penerima di seluruh Indonesia.
Persoalannya, program sebesar MBG memang memiliki tantangan besar. Menu makanan disusun berdasarkan ketersediaan bahan pangan lokal di masing-masing daerah. Artinya, menu yang diterima siswa di satu daerah belum tentu sama dengan daerah lainnya. Ada yang mendapatkan telur, ayam, ikan, tempe, atau sumber protein lain sesuai pasokan yang tersedia.
Karena itu, muncul dua kemungkinan yang kini menjadi bahan perdebatan. Pertama, laporan tersebut benar adanya namun hanya terjadi di sejumlah wilayah tertentu yang memiliki pasokan lele melimpah. Kedua, laporan itu merupakan gambaran ideal yang belum sepenuhnya terwujud secara merata di lapangan.
Yang jelas, hingga kini belum ada temuan resmi yang menyatakan laporan tersebut merupakan kebohongan. Namun perbedaan antara narasi di tingkat pusat dan pengalaman sebagian penerima manfaat membuat publik mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan program bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.
Bagi masyarakat, persoalannya sebenarnya sederhana. Bukan soal lele atau bukan lele. Yang ingin diketahui adalah apakah menu yang dilaporkan kepada Presiden benar-benar sampai ke piring siswa sesuai yang digambarkan.
Sebab dalam program sebesar MBG, kepercayaan publik tidak hanya dibangun oleh angka-angka di ruang rapat. Kepercayaan lahir dari apa yang benar-benar diterima anak-anak di meja makan sekolah mereka setiap hari. (*)
