Katasulsel.com — Selama puluhan tahun, Piala Dunia dikenal sebagai pesta sepak bola terbesar di muka bumi. Tiketnya diperebutkan, hotel penuh berbulan-bulan sebelumnya, dan jutaan orang rela terbang lintas benua demi menjadi bagian dari sejarah.

Namun suasana berbeda justru menyelimuti Piala Dunia 2026.

Saat bola mulai bergulir di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, penyelenggara justru menghadapi persoalan yang tak pernah diinginkan dalam sebuah pesta olahraga global: kursi kosong dan tiket yang belum laku.

Di sejumlah pertandingan, ribuan kursi masih tersedia meski turnamen telah dimulai. Data penjualan tiket menunjukkan sekitar 25 ribu kursi belum terjual melalui platform resmi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Piala Dunia mulai kehilangan daya magisnya?

Masalahnya ternyata bukan soal sepak bola.

Banyak penggemar mengaku terbentur biaya yang semakin mahal. Harga tiket, biaya penerbangan, akomodasi, hingga kebutuhan selama berada di negara tuan rumah membuat pengalaman menonton langsung menjadi kemewahan yang sulit dijangkau sebagian besar pencinta sepak bola.

Efeknya mulai terasa jauh dari stadion.

Hotel-hotel yang sebelumnya berharap menikmati lonjakan tamu justru melaporkan tingkat reservasi yang belum sesuai harapan. Di sejumlah kota penyelenggara, kamar yang biasanya ludes terjual saat event besar masih banyak tersedia.

Fenomena ini menciptakan ironi.

Piala Dunia 2026 adalah edisi terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan 104 pertandingan. Secara teori, semakin banyak tim berarti semakin banyak suporter yang datang.

Namun kenyataannya, semakin besar turnamen justru membuat perhatian penonton terpecah. Tidak semua pertandingan mampu menarik minat tinggi, terutama laga-laga fase grup yang mempertemukan negara-negara dengan basis suporter terbatas.

Bagi pengamat olahraga, situasi tersebut sebenarnya bukan kejutan.

Piala Dunia Afrika Selatan 2010 pernah mengalami hal serupa. Meski mencatat jutaan penonton secara keseluruhan, sejumlah pertandingan berlangsung di hadapan tribun yang jauh dari penuh.

Brasil 2014 juga menghadapi persoalan yang sama. Saat itu harga tiket dianggap terlalu mahal bagi sebagian warga lokal. Bahkan sejumlah kursi yang dialokasikan kepada sponsor dan pemegang hak tertentu tidak terisi pada hari pertandingan.

Kondisi serupa kembali muncul di Rusia 2018 ketika ribuan kursi kosong terlihat dalam beberapa laga fase grup.

Kini, gejala itu kembali menghantui Piala Dunia 2026.

Selain faktor ekonomi, situasi politik global ikut memberi dampak. Sejumlah analis menilai kebijakan imigrasi Amerika Serikat dan ketidakpastian proses visa membuat sebagian penggemar internasional memilih menunda perjalanan.

Banyak calon penonton tidak ingin mengambil risiko menghadapi proses administrasi yang rumit atau ketidakpastian saat memasuki negara tujuan.

Di sisi lain, tekanan ekonomi dalam negeri Amerika Serikat juga ikut memengaruhi minat masyarakat lokal. Kenaikan biaya hidup membuat banyak keluarga memilih menahan pengeluaran untuk hiburan dan perjalanan.

Akibatnya, turnamen yang seharusnya menjadi magnet wisata terbesar tahun ini justru menghadapi tantangan yang tidak datang dari lapangan hijau.

Jika biasanya FIFA sibuk membicarakan gol, strategi, dan bintang-bintang sepak bola dunia, kali ini perhatian juga tertuju pada satu hal yang tidak kalah penting: bagaimana mengisi kursi-kursi kosong di stadion.

Sebab semegah apa pun sebuah Piala Dunia, atmosfernya tak akan pernah sama tanpa lautan suporter yang bernyanyi, bersorak, dan menjadi nyawa dari permainan bernama sepak bola.

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa edisi terakhir, tantangan terbesar Piala Dunia tampaknya bukan lagi mencari juara, melainkan memastikan pesta sepak bola terbesar dunia tetap terasa sebagai sebuah pesta. (*)