Jakarta, Katasulsel.com – Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sukses menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) II dalam rangka Reviu Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) pada Senin, 15 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I., Ketua PD-PGMI Indonesia, sebagai narasumber utama. FGD juga dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Ketua LPPMI, Ketua UPM FKIP, Ketua Program Studi PGMI, dosen PGMI, serta perwakilan dosen dari Program Studi Psikologi.
FGD II menjadi wadah strategis untuk memperoleh masukan, saran, dan rekomendasi konstruktif dalam penyempurnaan kurikulum PGMI agar semakin relevan dengan kebutuhan lulusan, perkembangan dunia pendidikan, dan tantangan masa depan.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UNUSIA, dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Program Studi PGMI, Dekan FKIP, dan Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi PGMI UNUSIA, Asna Lutfa, M.PFis., menegaskan bahwa reviu kurikulum mengusung tema “Penguatan Kurikulum PGMI yang Adaptif dan Inovatif melalui Kurikulum OBE dengan Pendekatan Abad 21.”
Menurutnya, kurikulum yang adaptif harus disusun berdasarkan analisis kebutuhan mitra dan pengguna lulusan. Sementara itu, aspek inovatif diwujudkan melalui penerapan pendekatan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dalam proses pembelajaran. Melalui kurikulum berbasis OBE, diharapkan lulusan PGMI memiliki kompetensi abad ke-21 yang mampu menjawab berbagai tantangan zaman.
Dekan FKIP UNUSIA, Dede Setiawan, M.Pd., menyampaikan bahwa FGD II memiliki makna strategis dalam menyiapkan lulusan yang mampu menghadapi dinamika pendidikan dasar yang semakin kompleks.
“Lulusan PGMI harus memiliki kompetensi pedagogik dan profesional yang kuat, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, komunikasi yang efektif, serta kemampuan berkolaborasi dan memiliki kepekaan sosial terhadap perkembangan peserta didik. Implementasi OBE bukan sekadar perubahan struktur kurikulum, melainkan perubahan paradigma dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berorientasi pada capaian lulusan,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Fathu Yasik, M.Pd., berharap kurikulum PGMI berbasis OBE dapat memperkuat integrasi keilmuan serta memperjelas posisi keilmuan PGMI secara filosofis dan akademik.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan Body of Knowledge (BOK) pada bidang ilmu keguruan, pendidikan, dan pendidikan Islam. Selain itu, kurikulum diharapkan mampu mengakomodasi isu-isu pendidikan berkelanjutan, termasuk pendidikan ramah anak di tengah meningkatnya kompleksitas kasus kekerasan terhadap anak.
Setelah sesi sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan laporan penyusunan kurikulum OBE oleh Putri Utami Ramadhan, M.Pd., selaku Ketua Tim Pengembang Kurikulum PGMI UNUSIA.
Dalam laporannya, dijelaskan bahwa penyusunan kurikulum dilakukan sebagai bentuk pemutakhiran kurikulum yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025. Kurikulum dirancang agar mampu merespons perkembangan kebijakan pendidikan, kebutuhan pengguna lulusan, serta tuntutan masyarakat.
FGD II ini juga merupakan tindak lanjut dari FGD I yang telah dilaksanakan pada 28 Agustus 2025 dengan melibatkan mitra, pengguna lulusan, alumni, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memberikan masukan dalam pengembangan kurikulum PGMI UNUSIA.
Pada sesi inti, Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I. memaparkan materi mengenai urgensi redesain kurikulum berbasis OBE dan kerangka kerja (OBE Framework). Diskusi dipandu oleh Widya Rahmawati Al-Nur, M.Pd.
Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum berbasis OBE harus berorientasi pada kebutuhan lulusan dan pemangku kepentingan. Bahan kajian kurikulum perlu disusun berdasarkan visi keilmuan program studi, regulasi nasional, serta Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa implementasi OBE harus dimulai dari visi keilmuan program studi yang kemudian diturunkan menjadi tujuan program studi, profil lulusan, Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), hingga Sub-CPMK.
Menurutnya, terdapat tiga komponen utama dalam OBE, yaitu:
- Outcome, yaitu kemampuan dan profil yang harus dimiliki mahasiswa setelah menyelesaikan studi.
- Learning Process, yaitu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang dirancang untuk mencapai capaian pembelajaran secara optimal.
- Assessment, yaitu instrumen evaluasi yang digunakan untuk mengukur ketercapaian capaian pembelajaran dan menjadi dasar perbaikan proses pembelajaran.
Beliau juga menekankan pentingnya penerapan pendekatan TPACK sebagai bagian dari kompetensi yang harus dimiliki calon guru dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21.
Selain itu, keberhasilan implementasi OBE memerlukan dukungan sumber daya manusia, sarana-prasarana, sistem pembelajaran, dan evaluasi yang selaras dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
Melalui kegiatan FGD II ini, berbagai masukan dan rekomendasi yang diperoleh diharapkan dapat menjadi dasar penyempurnaan dokumen kurikulum PGMI berbasis OBE. Tim Pengembang Kurikulum bersama mitra dan pimpinan universitas diharapkan terus menjalin kolaborasi yang harmonis guna menghasilkan kurikulum yang berkualitas, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Hasil reviu kurikulum ini juga diharapkan dapat didiseminasikan kepada sivitas akademika sebagai sarana berbagi praktik baik (best practice) dalam pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan tinggi di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.(*)
