Polewali Mandar, katasulsel.com — Di sebuah sudut Dusun Monjopai, Desa Karama, Kecamatan Tinambung, ada rumah yang tidak sekadar berdiri sebagai bangunan. Ia berubah jadi “stadion emosi” setiap kali Piala Dunia bergulir.

Catnya biru-putih. Bukan asal warna. Itu warna Argentina. Dan di situlah Muhammad Yusuf (50), yang akrab disapa Pua Raju, menjadikan rumahnya sebagai semacam “kiblat kecil” bagi satu negara: Argentina.

Viral sejak Piala Dunia 2022, rumah panggung itu mendadak jadi titik ziarah fans bola. Orang datang bukan untuk urusan penting, tapi untuk satu hal sederhana: foto di depan rumah yang seolah ikut merayakan setiap gol Lionel Messi.

Saat Argentina juara dunia usai menaklukkan Prancis lewat adu penalti, rumah itu bukan lagi sekadar rumah. Ia jadi ruang selebrasi publik. Anak-anak kampung, orang dewasa, sampai pendatang dari luar Sulbar datang silih berganti. Ada yang sekadar selfie, ada yang ikut teriak seperti di stadion.

Pua Raju sendiri tidak pernah menganggap ini berlebihan. Baginya, ini hanya bentuk cinta yang sudah lama tumbuh. Sejak era Diego Maradona juara 1986, ia sudah jatuh hati pada Argentina. Dan cinta itu, katanya, diwariskan ke keluarga.

“Setiap Piala Dunia, rumah ini pasti saya cat ulang. Supaya terasa hidup lagi,” begitu kira-kira filosofi yang ia jalani tanpa teori rumit.

Yang menarik, fanatisme itu tidak berhenti di cat rumah. Saat anak pertamanya menikah pada 2020, semua serba Argentina: warna baju, nuansa pesta, bahkan simbol-simbol kecil di pelaminan. Di titik ini, bola sudah berubah jadi identitas keluarga.

Lalu datang cerita yang lebih “tak terduga”: cucu pertamanya diberi nama Muhammad Messi Pramudana. Nama yang membuat banyak orang tersenyum, sebagian geleng kepala, tapi tidak sedikit yang paham: di rumah ini, sepak bola bukan sekadar tontonan.

Bahkan ketika Argentina sempat kalah di laga pembuka Piala Dunia 2022 dari Arab Saudi, Pua Raju tidak bergeser. Beberapa polisi sempat datang, bukan untuk urusan hukum, tapi untuk “menenangkan” fanatik yang rumahnya sudah terlanjur viral itu. Jawabannya sederhana saja: kalah atau menang, tetap Argentina.

Di luar semua itu, ada satu hal yang membuat kisah ini terasa berbeda dari sekadar cerita fans bola biasa: Pua Raju tetap nelayan. Ia melaut seperti biasa di sekitar perairan Bone. Tapi saat Piala Dunia tiba, laut ia “tinggalkan sementara”, karena ada satu “pertandingan lain” yang lebih penting di rumahnya sendiri.

Hari ini, Piala Dunia 2022 sudah jadi sejarah. Tapi rumah Argentina itu tidak ikut selesai ceritanya. Ia masih berdiri, masih dicat biru-putih, dan masih jadi penanda bahwa di satu titik kecil di Sulawesi Barat, sepak bola pernah benar-benar hidup seperti agama kecil yang dirayakan dengan penuh kesetiaan. (*)