Malinau, Katasulsel.com — Kebiadaban Tinus (46) akhirnya terbongkar. Pria asal Kecamatan Mentarang Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, tega menjadikan anak kandungnya sendiri sebagai korban kekerasan seksual selama hampir satu dekade.
Ironisnya, perbuatan keji itu tak berhenti meski korban telah menikah dan memiliki anak. Ancaman demi ancaman membuat korban terkungkung dalam ketakutan panjang, hingga akhirnya berani bersuara.
Kasus ini terungkap setelah korban mengalami tekanan psikologis berat dan mendapat dukungan penuh dari keluarga besar untuk melapor ke Polres Malinau.
Aksi pertama Tinus terjadi pada 2015. Saat itu, istri dan anak-anak lainnya sedang berada di kebun. Pelaku memanfaatkan situasi rumah yang sepi untuk melancarkan aksinya.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 19.00 WITA. Pelaku membungkam mulut korban, melumpuhkan dengan ikatan, lalu melakukan perbuatan bejat. Usai kejadian, korban diancam agar tidak menceritakan apa pun kepada siapa pun.
Ancaman itu bukan main-main. Korban diintimidasi dengan ancaman pembunuhan jika berani membuka suara.
Ancaman tersebut membuat korban bungkam. Kekerasan seksual itu terus terjadi secara berulang selama hampir 10 tahun.
Dalam satu pekan, pelaku bisa melakukan aksinya dua hingga tiga kali, terutama ketika kondisi rumah sedang sepi.
“Kalau rumah ramai, pelaku tidak berani. Tapi begitu sepi, langsung bertindak,” ungkap pihak kepolisian.
Yang paling memilukan, pernikahan korban tidak menghentikan perilaku Tinus. Pelaku tetap melakukan perbuatannya, bahkan ketika suami korban berada di rumah.
Kondisi ini berdampak serius pada mental korban. Pemeriksaan psikolog menyatakan korban mengalami trauma berat, terutama ketika harus berhadapan dengan pelaku.
“Unsur kekerasan dan ancaman memperparah kondisi psikis korban,” kata petugas.
Korban yang telah memiliki anak sempat mencoba melawan dan menolak. Namun pelaku kembali menggunakan cara keji: mengancam nyawa cucunya sendiri.
Dengan membawa senjata tajam, pelaku menekan korban agar kembali menuruti kemauannya. Ancaman terhadap anak kecil inilah yang memicu kemarahan keluarga besar.

Tinggalkan Balasan