Enrekang, Katasulsel.com — Desa Pasui, Kecamatan Buntu Batu, menjadi saksi langkah awal Wakil Bupati Enrekang Andi Tenri Liwang dalam merajut kembali hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat akar rumput pasca-Pilkada. Kunjungan tersebut menandai upaya membangun pemerintahan yang tidak berjarak, dengan turun langsung menyapa warga desa.
Bagi masyarakat Pasui, kehadiran orang nomor dua di Enrekang itu dipandang sebagai sinyal positif bahwa pemerintahan baru membuka ruang komunikasi dua arah. Warga berharap, silaturahmi semacam ini tidak berhenti sebagai agenda awal jabatan, tetapi menjadi pola kepemimpinan yang konsisten.
“Kami ingin pemerintah hadir melihat langsung kondisi kami, bukan hanya menerima laporan di kantor,” ujar salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Dalam pertemuan yang dihadiri aparat desa, tokoh adat, dan masyarakat, isu infrastruktur kembali mencuat sebagai kebutuhan utama wilayah pegunungan. Camat Buntu Batu, Nuralam, menyebut terbukanya akses jalan poros Cakke–Baraka sebagai perubahan paling dirasakan warga dalam beberapa dekade terakhir.
“Sekarang kendaraan sudah bisa masuk. Ini bukan hanya soal jalan, tapi soal ekonomi warga yang selama ini terhambat,” ungkapnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Wakil Bupati Andi Tenri Liwang menekankan bahwa pemerintahan saat ini dihadapkan pada keterbatasan fiskal. Namun, ia memastikan kebijakan pembangunan akan diarahkan pada sektor-sektor yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Kami tidak menjanjikan semuanya sekaligus, tetapi kami pastikan setiap program yang dikerjakan memiliki manfaat nyata,” tegasnya.
Ia menyebutkan, selain peningkatan jalan penghubung antarwilayah, pemerintah daerah juga mulai menata sektor pendidikan dengan melakukan rehabilitasi puluhan sekolah di berbagai kecamatan, termasuk di Buntu Batu. Upaya ini, menurutnya, menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Enrekang.
Pemerintah kabupaten juga mendorong desa agar lebih aktif memanfaatkan program pembangunan berbasis desa melalui kementerian, terutama untuk akses jalan dan fasilitas pendukung pertanian.
Bagi warga, perubahan paling terasa adalah berkurangnya hambatan distribusi hasil panen. Seorang petani Pasui mengungkapkan bahwa perbaikan jalan telah memangkas biaya angkut dan waktu tempuh ke pasar.
“Dulu kami harus hitung ulang biaya, sekarang hasil kebun bisa langsung dibawa keluar,” katanya.
Silaturahmi ini bukan sekadar temu warga, tetapi menjadi ruang uji awal bagi kepemimpinan baru Enrekang. Masyarakat menaruh harapan besar, agar kehadiran pemerintah di desa tidak hanya terjadi di awal masa jabatan, melainkan menjadi komitmen jangka panjang menuju kesejahteraan yang lebih merata.(zul)



Tinggalkan Balasan