Pinrang, Katasulsel.com – Foto seorang polisi muda beredar luas di media sosial. Wajahnya masih terlihat belia. Namanya disebut-sebut: Bripda Pirman.

Ia baru menyelesaikan pendidikan pada Mei 2024. Artinya, belum genap dua tahun berdinas. Bripda Pirman diketahui berasal dari Kabupaten Wajo dan kini bertugas di Direktorat Samapta Polda Sulsel.

Namun namanya kini terseret dalam kasus serius.

Polda Sulawesi Selatan resmi menetapkan Bripda Pirman sebagai tersangka utama dalam kasus tewasnya Bripda DP (19). Penetapan itu diumumkan langsung Kapolda Sulsel, Djuhandhani Rahardjo Puro, Senin (23/2/2026).

Menurut Kapolda, penetapan tersangka dilakukan setelah ditemukan kesesuaian antara keterangan pelaku dan hasil pemeriksaan medis oleh Biddokkes.

“Kesesuaian itu dari keterangan memukul bagian kepala korban dan bagian tubuh lainnya, ini sudah sinkron,” ujar Djuhandhani saat ditemui di Mapolres Pinrang.

Artinya, pengakuan tersangka tidak berdiri sendiri. Ia dikaitkan dengan temuan luka pada tubuh korban. Sinkronisasi inilah yang menjadi dasar penyidik menetapkan status tersangka.

Meski demikian, motif di balik dugaan penganiayaan itu belum diungkap. Kapolda menyebut penyidik masih melakukan pendalaman.

“Tadi malam kita sudah lakukan konstruksi ulang, kita masih dalami motifnya. Lima orang lagi saat ini masih dalam proses pemeriksaan,” jelasnya.

Artinya, kasus ini belum berhenti pada satu nama. Lima anggota Polri lainnya masih diperiksa intensif. Penyidik membutuhkan bukti material dan pendukung lainnya untuk memastikan ada tidaknya keterlibatan pihak lain.

Kapolda menegaskan, anggota yang terbukti terlibat akan diproses melalui dua jalur sekaligus: pidana umum dan kode etik profesi. Tidak hanya mempertanggungjawabkan perbuatannya di pengadilan, tetapi juga di internal kedinasan.

“Kami akan buktikan bahwa dalam waktu kurang dari 1×24 jam, kami bisa mengungkap ini secara transparan. Disiplin etika akan kita tegakkan di Polda Sulsel,” tegasnya.

Di sisi lain, keluarga korban menyampaikan apresiasi atas langkah cepat kepolisian. Ayah Bripda DP, Aipda Muhammad Jabir, mengaku berterima kasih karena tersangka sudah ditetapkan.

“Tentu sebagai orang tua kami berterima kasih. Kami hanya ingin keadilan,” ujarnya singkat.

Kini publik menanti lanjutan proses hukum. Foto yang beredar di media sosial mungkin hanya potret seorang polisi muda.

Tapi kasus ini menjadi pengingat keras: satu tindakan bisa mengubah segalanya. (*)