Sidrap, katasulsel.com — Perusahaan plat merah daerah itu sempat megap-megap. Angka kerugian kurang lebih Rp158 juta tercatat dalam laporan keuangan hasil audit tahun 2025. Bagi ukuran badan usaha milik daerah, angka itu bukan sekadar statistik. Itu alarm.
Namun, alarm itu tak dibiarkan lama berbunyi.
Di bawah kepemimpinan baru, Andi Hindi Tongkeng, Perumda Tirta Saromase Sidrap mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Dalam hitungan bulan, kerugian yang semula Rp158 juta ditekan drastis hingga tersisa sekitar Rp9 juta. Nyaris menyentuh titik impas.
Audit yang dilakukan Kantor Akuntan Publik ADI dan DEKI Cabang Makassar justru memberi fondasi kepercayaan. Opini yang keluar: Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Artinya, laporan keuangan disajikan sesuai standar akuntansi. Tidak ada catatan merah dalam tata kelola.
Ini penting. Sebab membenahi BUMD tak cukup hanya dengan retorika pelayanan. Angka-angka harus sehat. Tata kelola harus rapi.
“Alhamdulillah, capaian ini tidak lepas dari arahan dan petunjuk Bupati selaku Kuasa Pemilik Modal,” ujar Andi Hindi Tongkeng kepada katasulsel.com, Kamis, 26 Februari 2026
Langkah pembenahan tak berhenti di meja laporan. Salah satu keputusan strategis adalah pemasangan jaringan listrik permanen pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Bilokka. Kecamatan paling selatan di Sidrap ke arah Soppeng.
Bayangkan. Sejak 2013, instalasi itu belum pernah memiliki aliran listrik permanen. Operasionalnya tentu tak maksimal. Produksi air bersih berjalan dalam keterbatasan.
Setelah jaringan listrik terpasang, pengolahan air kini lebih stabil. Efisiensi meningkat. Pelayanan pun terdongkrak.
Di sinilah manajemen diuji. Mengurus air bukan hanya soal pipa dan pompa. Ini soal manajemen biaya, kebocoran distribusi, disiplin operasional, hingga respons terhadap keluhan pelanggan.
Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM), memberi apresiasi atas langkah cepat manajemen baru. Menurutnya, pembenahan keuangan dan infrastruktur harus berjalan beriringan.
Air bersih, tegasnya, adalah hak dasar masyarakat. Tidak boleh ada kompromi pada kualitas layanan.
Perumda Tirta Saromase kini berada di fase bangkit: fase konsolidasi. Kerugian sudah ditekan. Infrastruktur mulai dibenahi. Tantangannya berikutnya, jelas menjaga momentum.
BUMD sering terjebak pada siklus klasik: semangat di awal, melemah di tengah jalan. Tirta Saromase tak boleh mengulang pola itu.
Manajemen harus memastikan efisiensi terus dijaga. Kebocoran ditekan. Pendapatan dioptimalkan. Dan yang paling penting: pelayanan kepada masyarakat Sidrap tetap menjadi prioritas utama.
Air yang mengalir lancar adalah indikator paling nyata keberhasilan perusahaan ini.
Jika angka kerugian bisa ditekan dalam waktu singkat, publik tentu berharap lebih. Bukan sekadar nol kerugian. Tetapi kinerja sehat, transparan, dan berkelanjutan.
Tirta Saromase sedang membuktikan diri. Bahwa perusahaan daerah pun bisa bangkit—asal dikelola dengan disiplin, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen pada pelayanan publik. (*)

Tinggalkan Balasan