Sidrap, katasulsel.com – Malam Jum’at (27/2), halaman Masjid Agung Pangkajene ramai dipenuhi jamaah. Ribuan warga datang mengikuti Tabligh Akbar, tapi sorotan utama malam itu jatuh pada Kapolres Sidrap, AKBP Dr. Fantry Taherong.
Dengan peci hitam rapi di kepala dan seragam cokelat dinas lengkap, Kapolres Fantry menyambut Ustad Das’ad Latif di panggung. Sapaan hangat itu sederhana, tapi penuh simbol: negara hadir, keamanan terjaga, kegiatan keagamaan tetap khidmat.
“Ketika pemuka agama datang, warga harus merasa aman. Sidrap harus religius, tapi juga aman,” ujar Kapolres Fantry sambil tersenyum. “Tugas saya memastikan jamaah bisa fokus beribadah tanpa gangguan, dan itu bukan hanya soal keamanan fisik, tapi juga ketenangan hati.”
Ia tak sekadar menyambut. Kapolres Fantry memantau jalannya acara, menegur ringan anggota pengamanan agar tetap sigap tapi tidak mengganggu kekhidmatan. Ribuan mata tertuju padanya—ada yang tersenyum kagum, melihat polisi tegas tapi humanis, simbol perlindungan nyata di tengah masyarakat.
Momen peci hitam dan seragam cokelat itu menjadi visual kuat: Kapolres Fantry bukan hanya hadir sebagai aparat, tapi menjadi bagian dari pengalaman religius warga Sidrap. Keamanan dan ketertiban bukan slogan, tapi tindakan nyata yang terlihat oleh semua.
Malam itu, jelas terasa: Sidrap aman, Tabligh Akbar berjalan lancar, dan masyarakat bisa menyerap tausiah dengan tenang. Kapolres Fantry mengingatkan, negara hadir di tengah rakyat, dan itu membuat Sidrap bukan sekadar religius, tapi juga tenteram. (*)



Tinggalkan Balasan