Jakarta — Dunia menahan napas. Sabtu (28/2/2026), Iran digempur serangan militer besar-besaran dari Amerika Serikat dan Israel, memicu ledakan di kota-kota besar Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Asap membubung di Jomhouri Square dan Hassan Abad, sementara warga panik mencari perlindungan.

Presiden AS, Donald Trump, menyebut aksi ini sebagai “operasi tempur besar-besaran” untuk menghentikan ambisi nuklir Iran. Netanyahu dari Israel menambahkan, tujuan operasi adalah menyingkirkan “rezim teroris” di Tehran.

“Waktunya bagi seluruh masyarakat Iran — Persia, Kurdi, Azeri, Baluchi, dan Ahwazi — untuk lepas dari tirani dan wujudkan Iran yang bebas dan damai,” ujar Netanyahu.

Iran membalas. Rudal-rudal diluncurkan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS. Sirene berbunyi, warga Israel bergegas ke tempat perlindungan. Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Yordania ikut merasakan dampak rudal Iran.

Situasi di lapangan kacau. Media Iran menayangkan video warga berlarian panik, sementara sebagian lainnya merasa lega karena percaya intervensi militer mungkin satu-satunya jalan menggulingkan rezim ulama.

“Jika saya mati, jangan lupakan bahwa kami juga ada — mereka yang menolak serangan militer, mereka yang akan menjadi angka dalam laporan korban,” tulis seorang warga Iran di media sosial.

Di tengah ketegangan global, Indonesia muncul sebagai aktor potensial. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan memfasilitasi dialog untuk meredam konflik.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sebut Kementerian Luar Negeri.

Kemlu juga mengimbau WNI di wilayah terdampak untuk tetap tenang, waspada, dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Sementara itu, dunia menyorot kemungkinan eskalasi yang lebih luas. Dengan sejarah lima putaran negosiasi nuklir yang gagal dan serangan mendadak Israel pada Juni 2025, ketegangan kini memuncak di level krisis regional. (*)