Jakarta — Teheran tidak lagi sekadar berduka. Ia bersiap.

Televisi pemerintah Iran, mengutip AFP, memastikan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan yang disebut sebagai operasi brutal Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.

Narasi yang dibangun jelas: bukan sekadar wafat. Tetapi “martir”.

Kata itu tidak dipilih sembarangan. Dalam politik Iran, martir adalah bahan bakar ideologis.

Tidak lama setelah pengumuman kematian, struktur transisi langsung diumumkan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut akan memimpin periode peralihan bersama Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei dan seorang pejabat dewan hukum negara.

Nama Mohammad Mokhber, penasihat Khamenei, dikutip sebagai sumber pengumuman itu.

Artinya satu: negara tidak mau ada kekosongan.

Kematian seorang Pemimpin Tertinggi dalam sistem Republik Islam bukan hanya kehilangan simbol. Ia adalah pusat gravitasi politik. Sejak 1989, Khamenei menggantikan Ruhollah Khomeini dan memegang kendali tertinggi militer, kebijakan luar negeri, serta arah ideologi negara.

Lebih dari tiga dekade.

Kini poros itu hilang dalam hitungan menit.

Yang membuat situasi semakin emosional: laporan media pemerintah menyebut sejumlah anggota keluarga Khamenei juga meninggal dalam serangan tersebut. Anak perempuan, cucu perempuan, menantu perempuan, hingga menantu laki-laki disebut menjadi korban.

Narasi tragedi personal bercampur dengan tragedi nasional.

Dan ketika duka menyatu dengan politik, hasilnya sering kali bukan sekadar pernyataan.

Korps Garda Revolusi Iran—Islamic Revolutionary Guard Corps—langsung angkat suara.

“Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” demikian pernyataan yang dikutip kantor berita Fars dan Al Jazeera.

Namun bagian yang paling diperhatikan dunia bukan kalimat duka itu.

Melainkan kalimat berikutnya: tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan membiarkan mereka lolos.

Itu bukan retorika kosong. IRGC adalah tulang punggung militer dan jaringan proksi Iran di kawasan. Mereka bukan sekadar institusi bersenjata. Mereka adalah mesin ideologis dan strategis.

Ketika mereka menyebut “tegas menghadapi konspirasi domestik dan asing”, itu berarti dua front sekaligus: luar dan dalam.

Di luar, dunia membaca potensi eskalasi besar. Israel dan Amerika Serikat akan meningkatkan kesiagaan. Sekutu Iran di kawasan—dari Lebanon hingga Yaman—ikut diperhitungkan.

Di dalam negeri, stabilitas menjadi ujian pertama trio transisi. Suksesi formal memang diatur dalam sistem Iran, tetapi situasi wafatnya Khamenei bukan kematian alami. Ini kematian akibat serangan militer.

Itu mengubah atmosfer.

Iran kini menghadapi dua tantangan sekaligus: menjaga konsolidasi elite dan merespons tekanan eksternal.

Bagi sebagian pendukungnya, Khamenei kini naik status: dari pemimpin menjadi simbol perlawanan. Dalam politik Timur Tengah, simbol sering kali lebih kuat daripada jabatan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran akan membalas.

Melainkan bagaimana, kapan, dan sejauh mana.

Setiap keputusan dalam beberapa hari ke depan akan menentukan apakah kawasan masuk ke konflik terbuka berskala besar atau perang bayangan yang lebih panjang dan senyap.

Yang jelas, sejak Sabtu pagi itu, Iran tidak lagi sama.

Dan dunia tahu: ketika Teheran berduka dengan kemarahan, gema politiknya bisa terdengar jauh melampaui perbatasannya. (*)

Gambar berita Katasulsel

Terima kasih telah membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Kami selalu menghadirkan fakta jernih, analisis mendalam, dan berita terkini. Jangan lewatkan berita pilihan lainnya secara gratis melalui saluran WhatsApp resmi kami: Gabung di sini.