Parepare, katasulsel.com — Malam itu seharusnya jadi panggung kebangkitan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. PSM Makassar dipaksa menelan pil pahit setelah dibekuk Persita Tangerang dengan skor 2-4.
Ironisnya, laga berlangsung di kandang sendiri. Stadion yang biasanya angker, mendadak terasa ramah bagi tim tamu.
PSM sebenarnya membuka asa lebih dulu. Pada menit ke-9, Yuran Fernandes sukses mengeksekusi penalti. Skor 1-0. Stadion bergemuruh. Harapan membuncah.
Lalu Aloisio Neto menggandakan keunggulan di menit 26. Skor berubah 2-0. Di titik itu, banyak yang mengira pertandingan tinggal soal waktu.
Tapi sepak bola tidak pernah sesederhana itu.
Persita mulai merespons di menit 35 lewat penalti Alekša Andrejić. Skor menjadi 2-1. Tekanan mulai terasa. Dua menit berselang, tepat menit 37, Pablo Ganet menyamakan kedudukan. 2-2.
Dan sejak saat itu, ritme pertandingan berubah total.
PSM seperti kehilangan kendali. Alur permainan tak lagi rapi. Koordinasi antarlini tampak goyah.
Petaka berikutnya datang di menit 74. Rayco Rodríguez membalikkan keadaan. Untuk pertama kalinya, Persita unggul 2-3. Stadion terdiam.
PSM mencoba menekan. Tapi justru di menit 88, Hokky Caraka menutup malam kelam itu dengan gol keempat Persita. Skor akhir 2-4.
Empat gol bersarang. Dua di antaranya terjadi saat PSM sudah unggul nyaman. Itu bukan sekadar kalah. Itu soal kehilangan momentum.
Di papan klasemen Liga 1, hasil ini bisa jadi alarm serius. Jika tren inkonsisten berlanjut, tekanan akan datang dari segala arah—suporter, manajemen, hingga ruang ganti sendiri.
Pertanyaan besarnya: apa yang sebenarnya terjadi setelah unggul 2-0?
Apakah stamina? Konsentrasi? Atau mental yang goyah saat ditekan?
Yang jelas, Persita menunjukkan mental baja. Tertinggal dua gol tak membuat mereka panik. Justru makin percaya diri.
Sebaliknya, PSM terlihat gamang ketika situasi tak lagi sesuai skenario.
Sepak bola memang kejam bagi yang lengah. Dan malam itu, PSM belajar dengan cara paling pahit: di depan pendukungnya sendiri. (edy)

Tinggalkan Balasan