Jakarta, Katasulsel.com — Perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat justru berubah menjadi konflik panjang yang menguras banyak sisi. Genap satu bulan sejak serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke Iran, peta kerugian tak lagi hitam-putih. Tidak ada pihak yang benar-benar menang—yang ada hanyalah skala kerugian yang berbeda.

Di awal, Washington dan Tel Aviv percaya operasi udara cepat mampu melumpuhkan kepemimpinan Iran dan membuka jalan bagi perubahan rezim. Namun kalkulasi itu meleset. Iran tetap bertahan, bahkan membalas dengan serangan rudal dan drone ke berbagai titik strategis, termasuk pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Perang pun berubah dari skenario “shock and awe” menjadi konflik ketahanan—siapa yang mampu bertahan lebih lama, dialah yang berpeluang mengklaim kemenangan.

Namun, di titik ini, semua pihak sudah membayar harga mahal.

Dari sisi Iran, kerugian terlihat paling nyata secara fisik dan struktural. Serangan awal menewaskan ribuan orang dan memicu jutaan warga mengungsi. Bahkan struktur elite kekuasaan ikut terpukul—tokoh militer, intelijen, hingga lingkar inti kekuasaan dilaporkan gugur.

Secara ekonomi, tekanan juga semakin dalam. Sanksi yang sudah lama membebani kini diperparah oleh perang terbuka. Infrastruktur rusak, distribusi terganggu, dan ketidakpastian politik meningkat.

Advertisement

Namun menariknya, justru dari kondisi ini Iran memainkan strategi berbeda: bertahan dan memperpanjang konflik. Bagi Teheran, kekalahan cepat justru lebih berbahaya dibanding perang panjang yang menguras lawan.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel menghadapi kerugian yang lebih “tak kasat mata” tetapi signifikan.

Biaya perang membengkak. Dalam hitungan awal, AS disebut telah menghabiskan miliaran dolar hanya dalam pekan pertama operasi.

Israel pun tak luput dari tekanan ekonomi. Kerugian mencapai miliaran dolar per pekan, menghantam sektor bisnis, industri, hingga aktivitas domestik yang lumpuh akibat ancaman serangan.

Lebih dari itu, citra militer juga ikut tergerus. Serangan balasan Iran ke berbagai target strategis menunjukkan bahwa dominasi penuh belum tercapai. Perang yang awalnya ingin dituntaskan cepat justru membuka celah keraguan atas efektivitas kekuatan militer Barat.

Di level global, dampaknya bahkan lebih luas. Ketegangan di kawasan Teluk mengancam jalur energi dunia, memicu lonjakan harga, dan membuka risiko stagflasi global. Jika konflik terus berlarut, ancaman resesi bukan lagi sekadar wacana.

Advertisement

Di titik ini, pertanyaan “siapa paling rugi” menjadi relatif.

Iran kehilangan banyak secara langsung—nyawa, infrastruktur, dan stabilitas internal. Namun AS dan Israel juga terseret dalam perang mahal, berisiko tinggi, dan tanpa kepastian kemenangan cepat.

Sebulan berlalu, perang ini justru menegaskan satu hal: dalam konflik modern, kemenangan bukan hanya soal menghancurkan lawan, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan paling lama tanpa runtuh dari dalam.

Gambar berita Katasulsel

Anda membaca Katasulsel.com, portal berita tepercaya dan berimbang.

Baca berita pilihan lainnya di saluran WhatsApp kami: Gabung di sini.