PALANGKARAYA, Katasulsel.com – Malam itu tak sekadar pertemuan. Di Palangkaraya, lantunan zikir, ayat suci, dan sholawat menyatu dalam satu irama: menghidupkan kembali spirit ruhani yang tak lekang oleh waktu.

Minggu (12 April 2026), Yayasan Al-Qonita dipenuhi jamaah. Momentum Syawal dimanfaatkan untuk menggelar amaliyah Manaqib yang dirangkaikan dengan haul Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin—sosok mursyid besar Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah yang ajarannya terus mengalir lintas generasi.

Bukan sekadar rutinitas. Ini ruang perjumpaan spiritual.

Ketua Yayasan Al-Qonita, Hajah Ubudiyah, menyambut jamaah dengan hangat. Baginya, kegiatan ini memiliki makna historis sekaligus batiniah yang kuat.

“Ini bukan hanya mengenang Abah Anom, tapi juga menjaga silaturahmi dan keberkahan amaliyah,” ujarnya.

Rangkaian acara berlangsung khidmat. Dimulai dari tilawah Al-Qur’an, tanbih, tawasul, hingga pembacaan manaqib. Puncaknya, tausiyah mengingatkan kembali esensi zikir sebagai benteng diri.

Pesan itu ditegaskan oleh Eka Suriansyah.

“Kalimat tauhid adalah kunci menutup pintu hawa nafsu. Manaqib ini menjadi pengingat agar amalan tidak hilang dari kehidupan kita,” katanya.

Di balik kekhusyukan malam itu, tersimpan perjalanan panjang. Tradisi Manaqib di Al-Qonita telah berjalan sejak 2010, bahkan embrionya sudah ada sejak akhir 1990-an melalui komunitas kecil yang konsisten menjaga amaliyah.

Penasehat LDTQN, Undang Abdulrahman, menjadi salah satu saksi perjalanan tersebut.

Kini, kegiatan tak hanya terpusat di satu tempat. Majelis zikir rutin digelar di berbagai titik di kota, menjadi kebutuhan ruhani bagi para jamaah.

Ketua LDTQN Palangkaraya, Amin, bahkan menegaskan bahwa kehadiran dalam majelis bukan sekadar pilihan.

“Ini kebutuhan spiritual. Sayang jika dilewatkan tanpa alasan,” tegasnya.

Gerakan ini juga diperkuat oleh peran IBU BELA Suryalaya yang terus berkembang di daerah. Dalam waktu dekat, rencana menghadirkan tokoh pusat dari Suryalaya menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan dan pembinaan jamaah.

Menariknya, Yayasan Al-Qonita tak hanya menjadi lokasi kegiatan. Ia telah menjelma menjadi simpul spiritual—tempat singgah para guru, ruang zikir, sekaligus pusat pembinaan ruhani.

Di penghujung acara, harapan sederhana kembali diucapkan: agar keberkahan terus mengalir.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan, malam itu menjadi pengingat—bahwa ketenangan sejati seringkali lahir dari zikir yang sederhana, namun istiqamah. (*)

Laporan: Rahmat Budianto

Gambar berita Katasulsel