Enrekang, katasulsel.com — Angka di atas kertas terlihat besar: Rp895,03 miliar. Tapi ketika ditarik ke realisasi, ceritanya berbeda.

Hingga April 2026, Pendapatan Daerah Pemkab Enrekang baru menyentuh Rp149,99 miliar. Artinya, baru sekitar 16,76 persen dari target tahunan.

Di sini letak sisi uniknya: bukan soal capaian rendah di awal tahun, tapi soal dari mana uang itu datang.

Dari total realisasi tersebut, hampir seluruhnya ditopang oleh Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) yang mencapai Rp146,40 miliar.

Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD)?
Hanya Rp3,59 miliar.

Perbandingannya timpang.

Kalau diibaratkan, “napas” keuangan daerah masih sangat bergantung pada pusat. PAD belum jadi penopang utama, bahkan porsinya masih sangat kecil di awal tahun.

Padahal, dalam konteks otonomi daerah, PAD sering disebut sebagai indikator kemandirian fiskal.

Di sisi lain, ada fakta lain yang tak kalah menarik. Total anggaran pendapatan 2026 justru turun 17,31 persen dibanding tahun sebelumnya.

Artinya, bukan hanya realisasi yang masih rendah—targetnya pun sudah lebih kecil dari tahun lalu.

Kondisi ini bisa dibaca sebagai sinyal kehati-hatian. Tapi juga bisa jadi cerminan tekanan fiskal yang sedang dihadapi daerah.

Awal tahun memang biasanya belum mencerminkan kondisi penuh. Banyak sumber pendapatan baru bergerak di semester kedua.

Merangkai data dan peristiwa menjadi narasi yang hidup dan informatif